Agar rezeki semakin bertambah dan barakah, hendaknya seseorang menempuh jalan taubat kepada Allah Swt. Ini adalah solusi yang sering dianggap aneh oleh sebagian orang. Mereka beranggapan bahwa sama sekali tidak ada kaitan antara bertambahnya rezeki dengan bertaubat. Baiklah, dalam risalah sederhana ini, saya ingin mengajak pembaca untuk memahami bahwa ada kaitan erat antara bertambahnya rezeki dengan taubat. Apalagi, bagi seorang muslim, yang diharapkannya bukan hanya bertambahnya rezeki semata, tetapi juga ada nilai barakah dari Allah Swt.
Dalam hal ini, marilah kita perhatikan hadits Nabi Saw. berikut, “Tiada sesuatu yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tiada yang dapat menambah umur kecuali amal kebajikan. Sesungguhnya seorang diharamkan rezeki baginya disebabkan dosa yang diperbuatnya.” (HR. Tirmidzi dan Hakim).
Berdasarkan sabda Rasulullah Saw. tersebut, kita menjadi tahu bahwa perbuatan dosa yang dilakukan oleh seseorang bisa menyebabkan rezeki haram baginya. Hadits ini bila dipahami secara apa adanya, kita bisa menjadi bertanya, bukankah di dalam kehidupan dunia ini banyak sekali orang yang masih saja melakukan perbuatan dosa, tetapi rezekinya juga melimpah, bahkan semakin hari semakin saja bertambah kaya.
Saudaraku tercinta, dalam hal ini, kita dapat memahami bahwa rezeki yang dimaksud adalah rezeki yang diridhai-Nya, atau rezeki yang mengandung barakah. Sebab, bisa saja dengan cara menipu seseorang bisa mendapatkan keuntungan materi. Bisa saja seseorang korupsi lantas dia menjadi kaya; rumahnya bagus, mobilnya mewah, dan sebagainya. Tetapi, apakah rezeki yang diperoleh dengan tidak halal itu adalah rezeki yang diridhai-Nya, atau rezeki yang barakah? Tentu saja tidak.
Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila kamu menyaksikan pemberian Allah dari materi dunia atas perbuatan dosa menurut kehendak-Nya, maka sesungguhnya itu adalah uluran waktu dan penangguhan tempo belaka.” Kemudian Rasulullah Saw. membaca firman Allah Swt. dalam surat al-An’aam ayat 44: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (HR. Ahmad dan Thabrani).
Sudah barang tentu, kita semua berharap agar rezeki yang kita terima adalah rezeki yang barakah. Untuk apa rezeki kita semakin melimpah, tapi kita jauh dari kebahagiaan yang sesungguhnya, yakni bahagia karena kita mendapat ridha-Nya. Bukankah rezeki yang kita peroleh di dunia, kita juga berharap agar bisa menjadi sarana untuk menggapai kebahagiaan di akhirat. Maka, jalan taubat adalah jalan yang mesti kita tempuh. Memohon ampun kepada Allah Swt. adalah jalan yang harus kita lalui agar kita mendapatkan rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Semoga bermanfaat
Salam DJIMODJI
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 23 Juni 2011
Minggu, 05 Juni 2011
Tips Mengatasi Selingkuh Dan Zina
Kita semua mengenal dan masih ingat dengan booming lagu “TTM” (Teman Tapi Mesra). yang dibawakan oleh Duo Ratu. Entah karena musiknya yang mudah didengar plus liriknya yang mudah diingat, atau gaya pertemanan seperti itu yang sedang “tren”
Kalau kita berbicara perselingkuhan diawali dengan adanya ketertarikan, perhatian satu sama lain, sehingga muncullah selingkuh. Mengetahui bahwa satu sama lain saling ketertarikan, perhatian kebersamaan, mulai diisi dengan obrolan yang bersifat personal. Masing-masing mulai mencari hobby, makanan pavorit, serta tempat yang sering dikunjungi, ketika menghabiskan waktu untuk bersantai.
Apakah benar orang bisa berselingkuh cuma lantaran pisik belaka ataukah ada alasan lain ?. Seorang pakar seksolog, Dr Boyke mengatakan bahwa kebanyakan kasus perselingkuhan di kota besar disebabkan oleh masalah seksualitas, satu pihak tidak bisa memuaskan pihak lain. Faktor yang paling sering menjadi penyebab terjadinya penyelewengan seks adalah lingkungan termasuk lingkungan kerja.
Seperti,perselingkuhan melibatkan banyak aspek, paling tidak ada 6 motif mengapa seseorang melakukan perselingkuhan,
1. Tidak bahagia dengan pasangan.
2. Bosan dengan pasangan.
3. Tantangan dan petualangan.
4. Materi.
5, Balas Dendam
6. Peluang dan kesempatan.
Islam memandang selingkuh sebagai zina, Allah swt, sangat membenci zina. Zina adalah perbuatan hina yang bisa menghancurkan bangunan yang megah, menundukkan kepala yang berwibawa, menghitamkan wajah yang putih dan membisukan lisan yang tajam. Kehinaan yang bisa menanggalkan baju kehormatan, seperti contoh kecil kasus Maria Eva. Zina merupakan kotoran hitam yang bisa menimpa keluarga. Meski sebelumnya kehidupan keluarga itu diliputi lembaran-lembaran putih berubah seketika. Mata pun enggan untuk memandangnya kecuali yang tampak adalah sesuatu yang hitam dan jelek.
Allah dan Nabi Muhamad SAW secara jelas telah mengharamkan zina karena kejinya perbuatan ini dan jeleknya sarana pengantarnya. Maka Allah melarang mendekati sarana dan penyebab zina karena itu adalah langkah awal sebelum terperosok ke dalamnya. Allah berfirman dalam Al Isra’:32 yaitu “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”
Karena perbuatan zina termasuk dosa besar setelah syirik dan pembunuhan, dan termasuk perbuatan jijik yang membinasakan, dan kejahatan yang mematikan. Rasullullah SAW bersabda, “Tidak ada suatu setelah syirik yang lebih besar di sisi Allah daripada setetes air mani yang diletakkan seorang lelaki pada rahim yang tidak dihalakan bagiannya.”
Keharaman zina ditegaskan Allah pada Surat Al-Furqan 68-70. “Dan orang-orang yang tidak menyembah Allah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapatkan (pembalasan) dosa(nya), yakni akan dilipatgandakan adzab untuknya pada hari kiamat. Dan dia akan kekal dalam adzab itu dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh. Maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dalam ayat ini, Allah menyatukan perbuatan zina dengan sirik dan pembunuhan serta menjadikan hukuman semua itu akan kekal dalam adzab yang berlipat-lipat. Selama hamba itu belum membuang penyebab azab itu dengan tobat, iman dan amal shaleh.
Maka Allah telah memberikan panduan agar hambanya bisa selamat pada Surat Al-Mu’minun: 1-6). “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusuk dalam shalatnya, orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang menjaga kemaluannya, kecuali pada istri-istrinya, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.
Maka Ulama LDII KH Aceng Karimullah BE, SE mengajak pada manusia yang mengaku dirinya muslim untuk menuju jalan keselamatan dari perbuatan keji. Dengan menjauhi perbuatan yang dapat menggiring manusia kepada kehancuran dan membawa kita kepada kehinaan. Ingatlah bahwa sebenarnya meninggalkan maksiat lebih ringan daripada melaksanakan taubat dan menunaikan kafarohnya. Dirinya memberikan sepuluh tips menuju jalan keselamatan untuk menghindari zina.
[1] Tidak berdua-duaan (nyepi) antara laki-laki dengan perempuan yang bukan mahrom, baik di rumah, di mobil, di mana saja. Mengikuti Sabda Rasulullah, “Tidaklah seorang laki-laki yang berdua-duaan dengan seorang wanita, kecuali yang ketiganya adalah setan.
[2] Bagi para wanita muslimah, hindarilah Tabarruj (berhias diri) dan Sufur (tidak menutup aurat) ketika keluar rumah, karena itu-menyebabkan fitnah dan menarik perhatian. Rasulullah bersabda, “Ada dua golongan penghuni neraka dan disebutkan salah satu diantaranya- wanita yang berpakaian tapi telanjang dan berjalan miring berlenggak-lenggok. Dan pakaian yang paling dianjurkan adalah abaya yang sederhana (pakaian berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuh), menutup kedua tangan dan kaki, serta tidak menggunakan wangi-wangian. Hendaklah mencontoh Ummahatul Mu’minun dan Shahabiyat, bila keluar rumah mereka itu bagaikan burung gagak yang memakai pakaian hitam, tidak sesuatupun dari tubuh mereka yang terlihat.
[3] Hindari membaca majalah-majalah yang merusak dan menonton film-film-yang terdapat adegan porno, karena itu akan membangkitkan nafsu seks dan Anda akan meremehkan perbuatan keji dengan menamakannya sebagai cinta dan persahabatan, dan menampakkan perbuatan zina dengan menamakan hubungan kasih sayang yang matang antara seorang laki-laki dan wanita. Janganlah merusak rumahmu, hatimu dan akalmrnu dengan hubungan-hubungan yang diharamkan.
[4] Allah berfirman, “Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.” (Lukman:6). Maka hindarilah (minimal kurangi) mendengarkan lagu-lagu dan musik, hiasilah pendemgaranmu dengan lantunan ayat-ayat suci Alquran, rutinlah membaca dzikir dan istighfar, perbanyaklah dzikrul maut (mengingat mati) dan Muhasabatun Nafs (evaluasi diri).
[5] Takutlah kepada Yang Maha Tinggi, Maha Kuasa dan Maha Mengetahui apa-apa yang tersembunyi. Ini adalah rasa takut yang paling tinggi yang menjauhkan seseorang dari perbuatan maksiat. Anggaplah bahwa ketika anda tergelincir pada perbuatan zina, maka bagamana jika seandainya hal itu diketahui oleh bapakmu, ibumu, saudara-saudaramu, kerabatmu atau suamimu/istrirmu? Dalam pandangan dan buah bibir mereka ketika Anda meninggal, mereka akan menganggap Anda sebagai seorang pezina, na’udzu billahi min dzalik.
[6] Mencari teman yang shaleh atau sholehah yang selalu siap menolong dan membantu Anda, karena manusia itu lemah sementara setan siap menerkam di mana saja dan kapan saja. Hindarilah teman jelek, karena ia akan datang kepada Anda bagaikan seorang pencuri yang masuk secara sembunyi-sembunyi mencuri kesempatan hingga ia menggelincirkanmu pada sesuatu yang diharamkan.
[7] Perbanyak berdoa, karena Nabi umat ini termasuk orang yang senantiasa membaca doa dan banyak istighfar.
[8] Tidak membiarkan waktu senggang berlalu kecuali dengan membaca Alquran. Berusaha menghafal apa yang mudah dari Alquran. Kalau Anda memiliki semangat yang tinggi, bergabunglah dengan kelompok Tahfidzul Quran. Karena jika diri Anda tidak disibukkan dengan ketaatan dan ibadah, maka Anda akan disibukkan oleh kebathilan.
[9] Ingatlah bahwa Anda akan meninggalkan dunia ini dengan lembaran-lembaran yang Anda tulis sepanjang hari-hari kehidupan Anda. Bila lernbaran-lembaran itu penuh dengan ketaatan dan ibadah, maka bergernbiralah. Dan bila sebaliknya, segeralah bertaubat sebelum meninggal. Karena hari kiamat itu adalah hari penyesalan. Allah berfirman, “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan.” (Maiyam: 39). Yaitu hari dibukanya segala hal yang tersembunyi) dan lembaran-lembaran yang beterbangan. Hari dimana seorang ibu yang menyusui melupakan anaknya yang sedang ia susui.
[10] Hati-hati menggunakan telepon, jangan sampai menjerumuskan banyak manusia, laki-laki maupun wanita, dalam perbuatan zina. Maka janganlah Anda menjadi salah satu dari mereka yang menjadi korban. Dan ketahuilah bahwa Allah akan memberikan anda jalan keluar, dan keselamatan dari padanya.(*)
Adapun kiat lainnya :
1. Terbuka. Kejujuran adalah kunci untuk menghindari perselingkuhan. Saling membagi perasaan dengan pasangan dan selalu mendukung satu sama lain.
2. Kedekatan. Buat dan pelihara keintiman secara emosi maupun seksual dengan pasangan. Makin dekat Anda, makin kuat pula Anda.
3. Smart. Jangan terjebak pada kepuasan, manusia tidak luput dari godaan.
4. Waspada. Ketika Anda merasa tertarik pada seseorang, segera ambil jarak sebelum muncul perasaan lebih dalam.
5. Jaga sikap. Kalau Anda merasa diri mudah membuat orang tergoda, ingatlah, kalau tidak ingin terbakar, jangan main api.
Dipandang dari sudut agama, maraknya perselingkuhan bisa dianggap sebagai indikasi menipisnya keimanan dan ketaqwaan masyarakat kita yang katanya “masyarakat relegius”. Dizaman globalisasi seperti sekarang ini, memang hal-hal yang bersifat religi sering “terbenamkan” oleh hal-hal duniawi. Semoga tulisan ini bermanfaat buat yang membacanya, Amin.
Salam DJIMODJI
Kalau kita berbicara perselingkuhan diawali dengan adanya ketertarikan, perhatian satu sama lain, sehingga muncullah selingkuh. Mengetahui bahwa satu sama lain saling ketertarikan, perhatian kebersamaan, mulai diisi dengan obrolan yang bersifat personal. Masing-masing mulai mencari hobby, makanan pavorit, serta tempat yang sering dikunjungi, ketika menghabiskan waktu untuk bersantai.
Apakah benar orang bisa berselingkuh cuma lantaran pisik belaka ataukah ada alasan lain ?. Seorang pakar seksolog, Dr Boyke mengatakan bahwa kebanyakan kasus perselingkuhan di kota besar disebabkan oleh masalah seksualitas, satu pihak tidak bisa memuaskan pihak lain. Faktor yang paling sering menjadi penyebab terjadinya penyelewengan seks adalah lingkungan termasuk lingkungan kerja.
Seperti,perselingkuhan melibatkan banyak aspek, paling tidak ada 6 motif mengapa seseorang melakukan perselingkuhan,
1. Tidak bahagia dengan pasangan.
2. Bosan dengan pasangan.
3. Tantangan dan petualangan.
4. Materi.
5, Balas Dendam
6. Peluang dan kesempatan.
Islam memandang selingkuh sebagai zina, Allah swt, sangat membenci zina. Zina adalah perbuatan hina yang bisa menghancurkan bangunan yang megah, menundukkan kepala yang berwibawa, menghitamkan wajah yang putih dan membisukan lisan yang tajam. Kehinaan yang bisa menanggalkan baju kehormatan, seperti contoh kecil kasus Maria Eva. Zina merupakan kotoran hitam yang bisa menimpa keluarga. Meski sebelumnya kehidupan keluarga itu diliputi lembaran-lembaran putih berubah seketika. Mata pun enggan untuk memandangnya kecuali yang tampak adalah sesuatu yang hitam dan jelek.
Allah dan Nabi Muhamad SAW secara jelas telah mengharamkan zina karena kejinya perbuatan ini dan jeleknya sarana pengantarnya. Maka Allah melarang mendekati sarana dan penyebab zina karena itu adalah langkah awal sebelum terperosok ke dalamnya. Allah berfirman dalam Al Isra’:32 yaitu “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”
Karena perbuatan zina termasuk dosa besar setelah syirik dan pembunuhan, dan termasuk perbuatan jijik yang membinasakan, dan kejahatan yang mematikan. Rasullullah SAW bersabda, “Tidak ada suatu setelah syirik yang lebih besar di sisi Allah daripada setetes air mani yang diletakkan seorang lelaki pada rahim yang tidak dihalakan bagiannya.”
Keharaman zina ditegaskan Allah pada Surat Al-Furqan 68-70. “Dan orang-orang yang tidak menyembah Allah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapatkan (pembalasan) dosa(nya), yakni akan dilipatgandakan adzab untuknya pada hari kiamat. Dan dia akan kekal dalam adzab itu dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh. Maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dalam ayat ini, Allah menyatukan perbuatan zina dengan sirik dan pembunuhan serta menjadikan hukuman semua itu akan kekal dalam adzab yang berlipat-lipat. Selama hamba itu belum membuang penyebab azab itu dengan tobat, iman dan amal shaleh.
Maka Allah telah memberikan panduan agar hambanya bisa selamat pada Surat Al-Mu’minun: 1-6). “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusuk dalam shalatnya, orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang menjaga kemaluannya, kecuali pada istri-istrinya, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.
Maka Ulama LDII KH Aceng Karimullah BE, SE mengajak pada manusia yang mengaku dirinya muslim untuk menuju jalan keselamatan dari perbuatan keji. Dengan menjauhi perbuatan yang dapat menggiring manusia kepada kehancuran dan membawa kita kepada kehinaan. Ingatlah bahwa sebenarnya meninggalkan maksiat lebih ringan daripada melaksanakan taubat dan menunaikan kafarohnya. Dirinya memberikan sepuluh tips menuju jalan keselamatan untuk menghindari zina.
[1] Tidak berdua-duaan (nyepi) antara laki-laki dengan perempuan yang bukan mahrom, baik di rumah, di mobil, di mana saja. Mengikuti Sabda Rasulullah, “Tidaklah seorang laki-laki yang berdua-duaan dengan seorang wanita, kecuali yang ketiganya adalah setan.
[2] Bagi para wanita muslimah, hindarilah Tabarruj (berhias diri) dan Sufur (tidak menutup aurat) ketika keluar rumah, karena itu-menyebabkan fitnah dan menarik perhatian. Rasulullah bersabda, “Ada dua golongan penghuni neraka dan disebutkan salah satu diantaranya- wanita yang berpakaian tapi telanjang dan berjalan miring berlenggak-lenggok. Dan pakaian yang paling dianjurkan adalah abaya yang sederhana (pakaian berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuh), menutup kedua tangan dan kaki, serta tidak menggunakan wangi-wangian. Hendaklah mencontoh Ummahatul Mu’minun dan Shahabiyat, bila keluar rumah mereka itu bagaikan burung gagak yang memakai pakaian hitam, tidak sesuatupun dari tubuh mereka yang terlihat.
[3] Hindari membaca majalah-majalah yang merusak dan menonton film-film-yang terdapat adegan porno, karena itu akan membangkitkan nafsu seks dan Anda akan meremehkan perbuatan keji dengan menamakannya sebagai cinta dan persahabatan, dan menampakkan perbuatan zina dengan menamakan hubungan kasih sayang yang matang antara seorang laki-laki dan wanita. Janganlah merusak rumahmu, hatimu dan akalmrnu dengan hubungan-hubungan yang diharamkan.
[4] Allah berfirman, “Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.” (Lukman:6). Maka hindarilah (minimal kurangi) mendengarkan lagu-lagu dan musik, hiasilah pendemgaranmu dengan lantunan ayat-ayat suci Alquran, rutinlah membaca dzikir dan istighfar, perbanyaklah dzikrul maut (mengingat mati) dan Muhasabatun Nafs (evaluasi diri).
[5] Takutlah kepada Yang Maha Tinggi, Maha Kuasa dan Maha Mengetahui apa-apa yang tersembunyi. Ini adalah rasa takut yang paling tinggi yang menjauhkan seseorang dari perbuatan maksiat. Anggaplah bahwa ketika anda tergelincir pada perbuatan zina, maka bagamana jika seandainya hal itu diketahui oleh bapakmu, ibumu, saudara-saudaramu, kerabatmu atau suamimu/istrirmu? Dalam pandangan dan buah bibir mereka ketika Anda meninggal, mereka akan menganggap Anda sebagai seorang pezina, na’udzu billahi min dzalik.
[6] Mencari teman yang shaleh atau sholehah yang selalu siap menolong dan membantu Anda, karena manusia itu lemah sementara setan siap menerkam di mana saja dan kapan saja. Hindarilah teman jelek, karena ia akan datang kepada Anda bagaikan seorang pencuri yang masuk secara sembunyi-sembunyi mencuri kesempatan hingga ia menggelincirkanmu pada sesuatu yang diharamkan.
[7] Perbanyak berdoa, karena Nabi umat ini termasuk orang yang senantiasa membaca doa dan banyak istighfar.
[8] Tidak membiarkan waktu senggang berlalu kecuali dengan membaca Alquran. Berusaha menghafal apa yang mudah dari Alquran. Kalau Anda memiliki semangat yang tinggi, bergabunglah dengan kelompok Tahfidzul Quran. Karena jika diri Anda tidak disibukkan dengan ketaatan dan ibadah, maka Anda akan disibukkan oleh kebathilan.
[9] Ingatlah bahwa Anda akan meninggalkan dunia ini dengan lembaran-lembaran yang Anda tulis sepanjang hari-hari kehidupan Anda. Bila lernbaran-lembaran itu penuh dengan ketaatan dan ibadah, maka bergernbiralah. Dan bila sebaliknya, segeralah bertaubat sebelum meninggal. Karena hari kiamat itu adalah hari penyesalan. Allah berfirman, “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan.” (Maiyam: 39). Yaitu hari dibukanya segala hal yang tersembunyi) dan lembaran-lembaran yang beterbangan. Hari dimana seorang ibu yang menyusui melupakan anaknya yang sedang ia susui.
[10] Hati-hati menggunakan telepon, jangan sampai menjerumuskan banyak manusia, laki-laki maupun wanita, dalam perbuatan zina. Maka janganlah Anda menjadi salah satu dari mereka yang menjadi korban. Dan ketahuilah bahwa Allah akan memberikan anda jalan keluar, dan keselamatan dari padanya.(*)
Adapun kiat lainnya :
1. Terbuka. Kejujuran adalah kunci untuk menghindari perselingkuhan. Saling membagi perasaan dengan pasangan dan selalu mendukung satu sama lain.
2. Kedekatan. Buat dan pelihara keintiman secara emosi maupun seksual dengan pasangan. Makin dekat Anda, makin kuat pula Anda.
3. Smart. Jangan terjebak pada kepuasan, manusia tidak luput dari godaan.
4. Waspada. Ketika Anda merasa tertarik pada seseorang, segera ambil jarak sebelum muncul perasaan lebih dalam.
5. Jaga sikap. Kalau Anda merasa diri mudah membuat orang tergoda, ingatlah, kalau tidak ingin terbakar, jangan main api.
Dipandang dari sudut agama, maraknya perselingkuhan bisa dianggap sebagai indikasi menipisnya keimanan dan ketaqwaan masyarakat kita yang katanya “masyarakat relegius”. Dizaman globalisasi seperti sekarang ini, memang hal-hal yang bersifat religi sering “terbenamkan” oleh hal-hal duniawi. Semoga tulisan ini bermanfaat buat yang membacanya, Amin.
Salam DJIMODJI
Mari Bangun Sikap Positif
Sikap anda mencerminkan pikiran Anda, namun juga memperlihatkan keadaan anda. Terutama jika menyangkut beban pikiran atau stress. Jika anda bisa menangani beban pikiran anda dengan optimisme dan harapan, anda bisa keluar dari cengkeraman keputus asaan. Peliharalah sikap positif dalam diri anda karena sifat itu akan membuat anda tetap optimis dalam menghadapi masalah apapun.
Sikap positif akan menolak berbagai energi negatif dalam segala bentuk baik dalam diri anda atau energi negatif yang orang lain kirimkan kepada anda, pelihara dan biasakanlah berpikir positif dan konstruktif. Tentu saja akan ada hambatan ketika anda mencoba membiasakan diri anda untuk berpikir positif. Akan ada kekecewaan, Sakit hati dan Kegagalan yang bisa mematahkan semangat energi positif yang sedang anda bangun. Tapi bagi mereka yang telah melalui ujian ini dengan sikap positif menganggap berbagai godaan itu adalah batu loncatan untuk hidup lebih sukses dan bahagia ke depannya.
Pelihara dan biasakan sikap positif ini dalam diri anda secara alami. Kepura-puraan hanya akan membentuk anda menjadi pribadi yang munafik dan membohongi diri sendiri. Intinya adalah mencoba untuk mengembangkan sikap positif dalam setiap masalah bahwa solusi akan anda temukan dengan cara berpikir positif, dan alam bawah sadar anda tahu bahwa anda tidak mudah menyerah , bahwa Anda tidak percaya pada situasi yang tanpa harapan dan pemecahan.
Jangan biarkan hal-hal kecil menjadi masalah yang sangat besar. Kendalikan masalah itu, ikat berbagai masalah menjadi satu bagian kecil rutinitas yang harus anda selesaikan. Selalu menjaga rasa humor ketika anda berinteraksi dengan orang lain adalah salah satu hal yang baik. Dengan rasa humor anda akan cepat mencairkan kekakuan dan juga cepat menjalin relasi dengan orang lain, yang penting humor juga akan menularkan aura positif dengan orang lain. Belajarlah untuk tersenyum dan iklas jangan terlalu serius. Hidup ini terlalu singkat untuk kita mengasihani diri sendiri.
Dengan memilih sikap positif setiap hari, kita akan menarik pengalaman yang lebih positif, dan mengurangi kemungkinan pengalaman negatif. Setiap pengalaman sering kali menentukan kualitas pengalaman berikutnya, berbagai reaksi negatif akan menyebabkan reaksi berantai dalam hidup kita. Sikap positif juga menular. Anda dapat meneruskan antusiasme anda dengan energi positif ke orang sekitar anda.
Mengembangkan pola pikir positif tergantung pada satu faktor - kondisi otak anda. Jika Anda mengatur otak anda ke keadaan puncak terbaik dalam hidup anda, Anda akan selalu memiliki puncak & pola pikir positif. Puncak pola pikir datang ketika memandang bahwa pengalaman hidup anda selama ini adalah yang terbaik yang dipersembahkan yang maha kuasa untuk anda. Fokuslah pada apa yang anda lakukan selama waktu yang panjang dan ini akan membawa hasil yang sangat baik pada apa yang anda rencanakan. Saya pernah membaca sebuah artikel yang cukup bagus di sebuah buku, bahwa semangat juga ternayata menjadi salah satu faktor untuk memunculkan pikiran positif.
Semoga Bermanfaat
Salam DJIMODJI
Sikap positif akan menolak berbagai energi negatif dalam segala bentuk baik dalam diri anda atau energi negatif yang orang lain kirimkan kepada anda, pelihara dan biasakanlah berpikir positif dan konstruktif. Tentu saja akan ada hambatan ketika anda mencoba membiasakan diri anda untuk berpikir positif. Akan ada kekecewaan, Sakit hati dan Kegagalan yang bisa mematahkan semangat energi positif yang sedang anda bangun. Tapi bagi mereka yang telah melalui ujian ini dengan sikap positif menganggap berbagai godaan itu adalah batu loncatan untuk hidup lebih sukses dan bahagia ke depannya.
Pelihara dan biasakan sikap positif ini dalam diri anda secara alami. Kepura-puraan hanya akan membentuk anda menjadi pribadi yang munafik dan membohongi diri sendiri. Intinya adalah mencoba untuk mengembangkan sikap positif dalam setiap masalah bahwa solusi akan anda temukan dengan cara berpikir positif, dan alam bawah sadar anda tahu bahwa anda tidak mudah menyerah , bahwa Anda tidak percaya pada situasi yang tanpa harapan dan pemecahan.
Jangan biarkan hal-hal kecil menjadi masalah yang sangat besar. Kendalikan masalah itu, ikat berbagai masalah menjadi satu bagian kecil rutinitas yang harus anda selesaikan. Selalu menjaga rasa humor ketika anda berinteraksi dengan orang lain adalah salah satu hal yang baik. Dengan rasa humor anda akan cepat mencairkan kekakuan dan juga cepat menjalin relasi dengan orang lain, yang penting humor juga akan menularkan aura positif dengan orang lain. Belajarlah untuk tersenyum dan iklas jangan terlalu serius. Hidup ini terlalu singkat untuk kita mengasihani diri sendiri.
Dengan memilih sikap positif setiap hari, kita akan menarik pengalaman yang lebih positif, dan mengurangi kemungkinan pengalaman negatif. Setiap pengalaman sering kali menentukan kualitas pengalaman berikutnya, berbagai reaksi negatif akan menyebabkan reaksi berantai dalam hidup kita. Sikap positif juga menular. Anda dapat meneruskan antusiasme anda dengan energi positif ke orang sekitar anda.
Mengembangkan pola pikir positif tergantung pada satu faktor - kondisi otak anda. Jika Anda mengatur otak anda ke keadaan puncak terbaik dalam hidup anda, Anda akan selalu memiliki puncak & pola pikir positif. Puncak pola pikir datang ketika memandang bahwa pengalaman hidup anda selama ini adalah yang terbaik yang dipersembahkan yang maha kuasa untuk anda. Fokuslah pada apa yang anda lakukan selama waktu yang panjang dan ini akan membawa hasil yang sangat baik pada apa yang anda rencanakan. Saya pernah membaca sebuah artikel yang cukup bagus di sebuah buku, bahwa semangat juga ternayata menjadi salah satu faktor untuk memunculkan pikiran positif.
Semoga Bermanfaat
Salam DJIMODJI
Rabu, 01 Juni 2011
4 PERMASALAHAN DALAM DIRI MANUSIA YANG SULIT DIPECAHKAN

Menurut laporan Life Science Amerika Serikat, bahwa sejumlah besar misteri yang sulit dipecahkan dalam tubuh manusia terhimpun di dalam otak besar. Otak besar merupakan organ yang paling membingungkan, seperti misalnya hidup dan mati, kesadaran, tidur dsb, semua itu adalah misteri yang belum mampu dipecahkan manusia hingga saat ini.
1. mimpi
Jika kita menanyakan soal yang sama pada 10 orang, apa yang menyebabkan kita bermimpi? Mungkin kita akan memperoleh 10 jawaban yang tidak sama. Ini dikarenakan misteri yang belum bisa dipecahkan ilmuwan saat ini. Teori pertama bahwa melalui rangsangan saraf informasi antar molekul otak besar menjalankan latihan terhadap otak besar selama mimpi berlangsung. Teori lainnya adalah orang-orang bermimpi akan tugas dan perasaan yang tidak sempat diperhatikan lagi, dalam proses demikian bisa membantu kita memperkuat ingatan dan pikiran. Umumnya, ilmuwan setuju dengan pengertian bahwa “mimpi bisa terjadi saat tidur sebentar”.
2.Tidur
Dalam sepanjang hidup manusia sedikitnya menghabiskan seperempat waktunya untuk tidur. Tidur sangat vital bagi keberlangsungan hidup makhluk menyusui, termasuk manusia.
Dua kondisi selama tidur berlangsung yakni masa tidur penuh (aktivitas bola mata melambat), saat demikian aktivitas metabolisme otak melambat; dan masa tidur sebentar (saat demikian bisa bermimpi), saat demikian aktivitas otak sangat dinamis.
Menurut ilmuwan bahwa tidur dalam masa sepenuhnya dapat membuat tubuh kita istirahat, menjaga stamina, seperti tidurnya binatang. Tidur dalam masa sebentar dapat membantu membentuk sesuatu yang diingat, namun, pengertian ini belum dibuktikan.
3.Halusinasi
Diperkirakan sekitar 80% orang yang diamputasi pernah mengalami perasaan tersiksa, stres, keinginan, kehangatan dan lain-lain perasaan. Orang yang mengalami fenomena demikian, selalu merasa anggota tubuh yang dipotong masih eksis. Sebuah penjelasan berpendapat, daerah saraf yang terpotong membentuk hubungan yang baru dengan sumsum tulang belakang, dimana anggota tubuh yang kurang seolah-olah masih ada, terus mengirim sinyal ke otak besar. Kemungkinan lainnya, otak besar adalah sebuah “kawat” transmisi, dia mengendalikan tubuh yang cacat bagaikan memperlakukan tubuh yang sempurna tanpa cacat. Ini berarti otak besar tetap menyimpan kendali ketika anggota tubuh masih dalam keadaan utuh dan sempurna.
4.Tertawa
Tertawa adalah salah satu perilaku manusia yang paling sulit dimengerti. Saat kita tertawa, ada tiga bagian otak besar kita menjadi dinamis yakni: daerah dalam kekuasaan pikiran, dia membuat Anda mendapatkan banyolan (tertawa); daerah gerakan mendorong otot Anda bergerak; daerah emosi (perasaan) membuat kita menyunggingkan senyuman.
Perintis peneliti humor John Morryer mendapati fakta bahwa suara tawa adalah sebuah reaksi yang sangat menarik terhadap cerita yang menyalahi kebiasaan. Dan pengertian lainya menganggap tawa sebagai sebuah saluran yang mengirimkan informasi “menarik (lucu)” kepada orang lain. Dengan demikian tampak jelas: tertawa membuat perasaan kita lebih baik.
Salam DJIMODJI
Selasa, 31 Mei 2011
Berita dari Alam Rahim
Judul : Rahim
Pengarang : Fahd Djibran
Editor : Nita Taufik
Ilustrasi : Adriane Yunita
Penerbit : Goodfaith
Tahun : Juni 2010
Ketebalan : 316
ISBN : 978-602-9600-2-5
Kakang kawah, Adi Ari-ari…..
Sejak kecil, sudah sering kudengar orang-orang disekitar mengucapkan kalimat itu sambil mengelus-elus perutnya dimana sang jabang bayi berada. Baru belakangan aku mengerti maknanya. Dan buku ini, memberikan nuansa makna yang berbeda mengenai tempat dimana sebuah kehidupan dimulai.
Buku ini mengisahkan tentang perjalanan seorang bayi di Alam Rahim. Rahim adalah nama lain Alam Semesta. Dongeng ini ditulis berdasarkan kisah yang disampaikan oleh Pengabar Berita dari Alam Rahim, Dakka Madakka kepada sang bayi. Dakka Madakka berpawakan agak pendek, berkulit hitam, menggunakan pakaian yang agak aneh dengan manik-manik menyala di dadanya dan bertuliskan AR (alam Rahim), serta berjalan etrgesa-gesa dan kondisi kaki kanan agak pincang. Dakka berasal dari suatu tempat dimana matahari terbit agak terlambat tiga puluh lima detik dan terbenam lebih cepat tiga ratus lima puluh detik.
Di Alam Rahim, ukuran tubuh sang jabang bayi berkembang dengan sangat cepat menjadi empat kali lipat lebih besar dari bentuk semulanya. Disana juga ada Menteri Khusus Urusan Mimpi Kerajaan Alam Rahim yang bertugas meracik makanan rahasia. Jika dimakan maka akan menyebabkan tidur juga membawa bayi yang tidur kemanapun ia mau.
Profesor Waktu yang bertugas di Alam Rahim menyebutkan angka 24.471.165 detik. keseluruhan waktu setara dengan 9 bulan, 13 hari, 5 jam,32 menit dan 45 detik. Semuanya terlihat cepat! Mengingat 1 detik di Alam Rahim sama dengan 1 menit di Alam Dunia . Bayangkan selama ibu seorang ibu harus membawa beban sekian kilo di tubuhnya. Beban yang dibawa dengan rasa syukur dan kasih sayang.
Saya jadi teringat sebuah pengalaman pribadi beberapa tahu lampau. Sebagai anak tunggal, jagoan neonku sering tanpa sengaja mendapat perhatian dan perlakuan ekstra hingga membuatnya sedikit egois. Saat keinginannya tidak terpenuhi maka bisa timbul aksi unjuk rasa. Untuk membuatnya mengerti sesuatu hal tidak bisa dengan kata-kata namun harus dengan penjelasan sebab-akibat dan contoh kongkrit.
Suatu saat badanku sedang letih tak tertahan, dan ia memaksaku untuk menemaninya ke mall. Segala rayuan tidak mempan, memberikan pengertian lelah juga tidak bisa. Akhir sebuah kompromi disepakati. Anggap saja lelahku ini seperti ibu hamil, maka cobalah mengikat bantal kecil ke badan selama sekian jam tanpa dilepas. Jika ia mampu maka aku berjanji akan menemaninya ke mall dan membelikan makanan kesukaannya.
Untuk sekian menit bertama, wajahnya masih menunjukkan keceriaan, ada permainan baru baginya. Satu jam pertama, tawar menawar mulai dilakukan. Ia merayuku agar boleh melepas bantal kecil itu sebentar dengan alasan mau ke kamar kecil, tentunya ku tolak. Ku terangkan bahwa selama 9 bulan aku selalu membawanya kemanapun, dari ke kentor hingga mandi, Dalam kondisi sehat maupun sakit Akhirnya baru 2 jam ia menyerah dan mau memahami bagaimana pengorbanan seorang ibu membawa bayi dalam rahimnya selama 9 bulan! Tapi namanya juga anak-anak , sikap manisnya itu, maksudnya sangat manis hanya bertahan seminggu! Walau kembali ke sifat asal, namun terus terang ia sedikit berubah.
Setiap bab dalam buku ini diakhiri dengan sebuah paragraph yang berisi kalimat yang patut direnungi maknanya. Selain itu terdapat juga karikatur yang sangat sesuai dengan isi yang terkandung dalam bab itu. Namun yang sama, disetiap akhir bab ada gambar perjalanan sang jabang bayi.
Buku ini sarat akan makna kehidupan. Setiap individu diharapkan setelah membaca buku ini akan mensyukuri keberadaannya serta mensyukuri kehidupan yang dititipkan dalam wujud anak kepada mereka. Bacaan yang sangat cocok dibaca untuk para wanita serta para calon ayah bahkan yang sudah menjadi ayah.
Cocok juga untuk diberikan kepada buah hati . Belakangan banyak sekali anak-anak yang tak menghargai ibunya. Anak-anak yang tak menyayangi ibunya, yang sama sekali lupa bahwa mereka pernah meminjam setengah nyawa ibunya ketika hidup selama sembilan bulan di dalam kandungan ibunya.
Kembali saya teringat cerita seorang sahabat. Ia dengan bangganya bercerita, saat melahirkan anak pertama, sang suami ikut menemani ke dalam kamar bersalin. Sang suami membantunya mengatasi rasa sakit dengan merelakan tanganya dipegang sedemikian kuatnya hingga lecet-lecet kena kuku. Sang suami juga melihat bagaimana bayi merah itu dibersihkan sebelum diberikan untuk di Adzan-kan. Sejak saat itu kasih sayang sang suami kian melimpah.
Namun…, beberapa tahun kemudian kami mendapat khabar jika rumah tangga mereka sudah berakhir. Saat bertemu sang sahabat hanya tertawa ketika ditanya kepastian berita itu. Hal ini tentunya aneh mengingat baru beberapa waktu yang lalu sang suami selalu memuji perjuangan sang istri saat melahirkan.
“Seandainya ada sebuah buku atau semacam kenangan yang bisa mengingatkan bagaimana perjuangan seorang ibu saat mengandung dan melahirkan anak, tentunya ia tidak akan pernah lupa dan berbuat yang aneh-aneh” Kata sahabatku sambil berkaca-kaca. “ Sudah melihatku berjuang saja ia masih macam-macam bagaimana jika tidak” Sambungnya lagi. Kami hanya bisa terdiam tidak tahu harus berkata apa.
Satu-satunya kekurangan dari buku ini buat saya adalah pengurangan cerita mengenai betapa cepatnya waktu berjalan di Dunai Rahim. Entah untuk penegasan atau dilakukan tanpa sengaja, namun sepertinya cukup jika diuraikan satu kali saja, sehingga kesan dramatisnya lebih terasa.
Dari keseluruhan buku, kalimat yang saya paling suka adalah : “ Memberi adalah mendapatkan lebih” Serta “Para ibu memberikan setengah nyawanya untuk sang jabang bayi selama berada di Alam Rahim”.
Semoga Bermanfaat
Salam DJIMODJI
Pengarang : Fahd Djibran
Editor : Nita Taufik
Ilustrasi : Adriane Yunita
Penerbit : Goodfaith
Tahun : Juni 2010
Ketebalan : 316
ISBN : 978-602-9600-2-5
Kakang kawah, Adi Ari-ari…..
Sejak kecil, sudah sering kudengar orang-orang disekitar mengucapkan kalimat itu sambil mengelus-elus perutnya dimana sang jabang bayi berada. Baru belakangan aku mengerti maknanya. Dan buku ini, memberikan nuansa makna yang berbeda mengenai tempat dimana sebuah kehidupan dimulai.
Buku ini mengisahkan tentang perjalanan seorang bayi di Alam Rahim. Rahim adalah nama lain Alam Semesta. Dongeng ini ditulis berdasarkan kisah yang disampaikan oleh Pengabar Berita dari Alam Rahim, Dakka Madakka kepada sang bayi. Dakka Madakka berpawakan agak pendek, berkulit hitam, menggunakan pakaian yang agak aneh dengan manik-manik menyala di dadanya dan bertuliskan AR (alam Rahim), serta berjalan etrgesa-gesa dan kondisi kaki kanan agak pincang. Dakka berasal dari suatu tempat dimana matahari terbit agak terlambat tiga puluh lima detik dan terbenam lebih cepat tiga ratus lima puluh detik.
Di Alam Rahim, ukuran tubuh sang jabang bayi berkembang dengan sangat cepat menjadi empat kali lipat lebih besar dari bentuk semulanya. Disana juga ada Menteri Khusus Urusan Mimpi Kerajaan Alam Rahim yang bertugas meracik makanan rahasia. Jika dimakan maka akan menyebabkan tidur juga membawa bayi yang tidur kemanapun ia mau.
Profesor Waktu yang bertugas di Alam Rahim menyebutkan angka 24.471.165 detik. keseluruhan waktu setara dengan 9 bulan, 13 hari, 5 jam,32 menit dan 45 detik. Semuanya terlihat cepat! Mengingat 1 detik di Alam Rahim sama dengan 1 menit di Alam Dunia . Bayangkan selama ibu seorang ibu harus membawa beban sekian kilo di tubuhnya. Beban yang dibawa dengan rasa syukur dan kasih sayang.
Saya jadi teringat sebuah pengalaman pribadi beberapa tahu lampau. Sebagai anak tunggal, jagoan neonku sering tanpa sengaja mendapat perhatian dan perlakuan ekstra hingga membuatnya sedikit egois. Saat keinginannya tidak terpenuhi maka bisa timbul aksi unjuk rasa. Untuk membuatnya mengerti sesuatu hal tidak bisa dengan kata-kata namun harus dengan penjelasan sebab-akibat dan contoh kongkrit.
Suatu saat badanku sedang letih tak tertahan, dan ia memaksaku untuk menemaninya ke mall. Segala rayuan tidak mempan, memberikan pengertian lelah juga tidak bisa. Akhir sebuah kompromi disepakati. Anggap saja lelahku ini seperti ibu hamil, maka cobalah mengikat bantal kecil ke badan selama sekian jam tanpa dilepas. Jika ia mampu maka aku berjanji akan menemaninya ke mall dan membelikan makanan kesukaannya.
Untuk sekian menit bertama, wajahnya masih menunjukkan keceriaan, ada permainan baru baginya. Satu jam pertama, tawar menawar mulai dilakukan. Ia merayuku agar boleh melepas bantal kecil itu sebentar dengan alasan mau ke kamar kecil, tentunya ku tolak. Ku terangkan bahwa selama 9 bulan aku selalu membawanya kemanapun, dari ke kentor hingga mandi, Dalam kondisi sehat maupun sakit Akhirnya baru 2 jam ia menyerah dan mau memahami bagaimana pengorbanan seorang ibu membawa bayi dalam rahimnya selama 9 bulan! Tapi namanya juga anak-anak , sikap manisnya itu, maksudnya sangat manis hanya bertahan seminggu! Walau kembali ke sifat asal, namun terus terang ia sedikit berubah.
Setiap bab dalam buku ini diakhiri dengan sebuah paragraph yang berisi kalimat yang patut direnungi maknanya. Selain itu terdapat juga karikatur yang sangat sesuai dengan isi yang terkandung dalam bab itu. Namun yang sama, disetiap akhir bab ada gambar perjalanan sang jabang bayi.
Buku ini sarat akan makna kehidupan. Setiap individu diharapkan setelah membaca buku ini akan mensyukuri keberadaannya serta mensyukuri kehidupan yang dititipkan dalam wujud anak kepada mereka. Bacaan yang sangat cocok dibaca untuk para wanita serta para calon ayah bahkan yang sudah menjadi ayah.
Cocok juga untuk diberikan kepada buah hati . Belakangan banyak sekali anak-anak yang tak menghargai ibunya. Anak-anak yang tak menyayangi ibunya, yang sama sekali lupa bahwa mereka pernah meminjam setengah nyawa ibunya ketika hidup selama sembilan bulan di dalam kandungan ibunya.
Kembali saya teringat cerita seorang sahabat. Ia dengan bangganya bercerita, saat melahirkan anak pertama, sang suami ikut menemani ke dalam kamar bersalin. Sang suami membantunya mengatasi rasa sakit dengan merelakan tanganya dipegang sedemikian kuatnya hingga lecet-lecet kena kuku. Sang suami juga melihat bagaimana bayi merah itu dibersihkan sebelum diberikan untuk di Adzan-kan. Sejak saat itu kasih sayang sang suami kian melimpah.
Namun…, beberapa tahun kemudian kami mendapat khabar jika rumah tangga mereka sudah berakhir. Saat bertemu sang sahabat hanya tertawa ketika ditanya kepastian berita itu. Hal ini tentunya aneh mengingat baru beberapa waktu yang lalu sang suami selalu memuji perjuangan sang istri saat melahirkan.
“Seandainya ada sebuah buku atau semacam kenangan yang bisa mengingatkan bagaimana perjuangan seorang ibu saat mengandung dan melahirkan anak, tentunya ia tidak akan pernah lupa dan berbuat yang aneh-aneh” Kata sahabatku sambil berkaca-kaca. “ Sudah melihatku berjuang saja ia masih macam-macam bagaimana jika tidak” Sambungnya lagi. Kami hanya bisa terdiam tidak tahu harus berkata apa.
Satu-satunya kekurangan dari buku ini buat saya adalah pengurangan cerita mengenai betapa cepatnya waktu berjalan di Dunai Rahim. Entah untuk penegasan atau dilakukan tanpa sengaja, namun sepertinya cukup jika diuraikan satu kali saja, sehingga kesan dramatisnya lebih terasa.
Dari keseluruhan buku, kalimat yang saya paling suka adalah : “ Memberi adalah mendapatkan lebih” Serta “Para ibu memberikan setengah nyawanya untuk sang jabang bayi selama berada di Alam Rahim”.
Semoga Bermanfaat
Salam DJIMODJI
Sedulur Papat Limo Pancer Dalam Falsafah Kejawen
Dalam pemikiran Jawa pengertian Sedulur Papat Limo Pancer (Empat Saudara dan Yang Kelima Tengah) mempunyai pengertian yang terus berkembang dari zaman pra-Islam hingga zaman Islam.
Pengertian asalnya adalah penyelarasan antara jagad kecil (manusia-mikrokosmos) dengan jagad besar Alam Semesta (makrokosmos). Saudara yang empat yang ada di jagad besar itu adalah empat kiblat yang ada yaitu timur, selatan, barat dan utara. Ditambah saudara pancer yaitu tengah dimana diri manusia itu berada.
Sedangkan empat saudara yang berkaitan dengan jagad kecil (manusia) adalah apa-apa yang mengiringi kelahirannya. Mereka itu adalah kakang kawah (air ketuban), adi ari-ari (plasenta), getih (darah) dan puser (tali plasenta). Sedangkan yang kelima pancernya adalah diri manusianya itu sendiri.
Dari pengertian asal ini kemudian berkembang dengan adanya pengaruh agama Hindu. Sedulur papat (empat saudara) kemudian dimaknai selain sebagai empat kiblat juga kemudian dimaknai sebagai unsur alam yang menjadi pembentuk jasad manusia. Empat anasir ini adalah bumi/tanah, air, api dan angin. Sedang yang kelima pancer adalah diri manusia itu sendiri.
Bagi orang Jawa semua ’sedulur’ tadi harus diruwat, dirawat dan dihormati dengan cara diselamati dengan ‘bancaan’ atau tumpengan. Mereka semua dianggap ‘pamomong’ atau penjaga manusia. Biasanya penyebutan untuk mereka dan sekalian untuk unsur-unsur alam semesta disebut dengan “sedulurku sing lahir bareng sedino, sing ora lahir bareng sedino, sing kerawatan lan sing ora kerawatan”. Artinya : “saudaraku yang lahir bersamaan sehari denganku ( air ketuban, ari-ari, darah kelahiran, tali plasenta,dan ruh/jiwa ), saudara yang tidak lahir bersamaan (unsur alam semesta ), yang terawat maupun yang tidak terawat”.
Namun pengertian ini kemudian berkembang lagi dengan adanya pengaruh agama islam. Oleh Kanjeng Sunan Kalijaga ( ?) kemudian ditambahkan pengertian baru yang bernafaskan Islam. Yaitu empat saudara itu adalah empat jenis nafsu manusia sedangkan yang kelima pancer adalah hati nurani atau ‘alam rahsa / sirr’. Unsur empat nafsu adalah nafsu aluamah, sufiyah, amarah dan muthmainah.
Nafsu aluamah berkaitan dengan insting dasar manusia. Yaitu keinginan untuk makan, minum, berpakaian, bersenggama, dll. Dikatakan bahwa nafsu aluama ini terjadi karena pengaruh unsur tanah yang menjadi unsur pembentuk jasad manusia.
Nafsu sufiyah berkaitan dengan keinginan duniawi untuk dipuji, untuk kaya, mendapat derajad dan pangkat, loba, tamak dll. Nafsu ini berpadanan dengan sifat udara yang menjadi unsur pembentuk jasad. Sifat dari udara adalah selalu ingin memenuhi ruang selagi ruang itu ada (ruang kosong).
Nafsu amarah berkaitan dengan keinginan untuk mempertahankan harga diri, rasa marah, emosi dll. Dikatakan nafsu ini mendapat pengaruh dari sifat panas / api yang menjadi pembentuk jasad mansia.
Nafsu muthmainah adalah nafsu yang mengajak kearah kebaikan. Dikatakan bahwa nafsu ini mendapat pengaruh sifat air yang juga menjadi pembentuk jasad manusia.
Untuk penyebutan unsur kelima pancer ada bermacam-macam penafsiran. Ada yang mengatakan Nur Muhammad, ada yang mengartikan sebagai ‘guru sejati’, ada yang menyebut ‘roso jati sejatining roso’ (rasa sejati, sejatinya rasa). Intinya saudara pancer yang kelima itu adalah unsur ’super ego’ yang menjadi sumber nilai bagi manusia. Dalam hal ini penulis cenderung mengartikan sebagai “bashiroh” yaitu mata hati yang bersumber dari kesejatian ‘min Ruhi’ yang dianugerahkan oleh ilahi.
Keempat nafsu yang ada harus ‘dirawat’, diatur, diseimbangkan dan harus berjalan dibawah kendali akal dalam bimbingan hidayah ilahi. Itulah makna dari ‘angaweruhi’ (merawat) sedulur papat limo pancer.
Namun bagi saya, pemaknaan yang konfrenhensif yang melibatkan macam-macam pengertian yang ada itulah yang harus kita hayati. Yaitu mengakui dan menyelaraskan diri kita (mikrokosmos) sebagai bagian dari jagad besar (makrokosmos) dan sekaligus pengendalian diri kita atas nafsu-nafsu kita dibawah akal dan dalam ‘pituduh’ (petunjuk / hidayah) ilahi.
Semoga Bermanfaat
Pengertian asalnya adalah penyelarasan antara jagad kecil (manusia-mikrokosmos) dengan jagad besar Alam Semesta (makrokosmos). Saudara yang empat yang ada di jagad besar itu adalah empat kiblat yang ada yaitu timur, selatan, barat dan utara. Ditambah saudara pancer yaitu tengah dimana diri manusia itu berada.
Sedangkan empat saudara yang berkaitan dengan jagad kecil (manusia) adalah apa-apa yang mengiringi kelahirannya. Mereka itu adalah kakang kawah (air ketuban), adi ari-ari (plasenta), getih (darah) dan puser (tali plasenta). Sedangkan yang kelima pancernya adalah diri manusianya itu sendiri.
Dari pengertian asal ini kemudian berkembang dengan adanya pengaruh agama Hindu. Sedulur papat (empat saudara) kemudian dimaknai selain sebagai empat kiblat juga kemudian dimaknai sebagai unsur alam yang menjadi pembentuk jasad manusia. Empat anasir ini adalah bumi/tanah, air, api dan angin. Sedang yang kelima pancer adalah diri manusia itu sendiri.
Bagi orang Jawa semua ’sedulur’ tadi harus diruwat, dirawat dan dihormati dengan cara diselamati dengan ‘bancaan’ atau tumpengan. Mereka semua dianggap ‘pamomong’ atau penjaga manusia. Biasanya penyebutan untuk mereka dan sekalian untuk unsur-unsur alam semesta disebut dengan “sedulurku sing lahir bareng sedino, sing ora lahir bareng sedino, sing kerawatan lan sing ora kerawatan”. Artinya : “saudaraku yang lahir bersamaan sehari denganku ( air ketuban, ari-ari, darah kelahiran, tali plasenta,dan ruh/jiwa ), saudara yang tidak lahir bersamaan (unsur alam semesta ), yang terawat maupun yang tidak terawat”.
Namun pengertian ini kemudian berkembang lagi dengan adanya pengaruh agama islam. Oleh Kanjeng Sunan Kalijaga ( ?) kemudian ditambahkan pengertian baru yang bernafaskan Islam. Yaitu empat saudara itu adalah empat jenis nafsu manusia sedangkan yang kelima pancer adalah hati nurani atau ‘alam rahsa / sirr’. Unsur empat nafsu adalah nafsu aluamah, sufiyah, amarah dan muthmainah.
Nafsu aluamah berkaitan dengan insting dasar manusia. Yaitu keinginan untuk makan, minum, berpakaian, bersenggama, dll. Dikatakan bahwa nafsu aluama ini terjadi karena pengaruh unsur tanah yang menjadi unsur pembentuk jasad manusia.
Nafsu sufiyah berkaitan dengan keinginan duniawi untuk dipuji, untuk kaya, mendapat derajad dan pangkat, loba, tamak dll. Nafsu ini berpadanan dengan sifat udara yang menjadi unsur pembentuk jasad. Sifat dari udara adalah selalu ingin memenuhi ruang selagi ruang itu ada (ruang kosong).
Nafsu amarah berkaitan dengan keinginan untuk mempertahankan harga diri, rasa marah, emosi dll. Dikatakan nafsu ini mendapat pengaruh dari sifat panas / api yang menjadi pembentuk jasad mansia.
Nafsu muthmainah adalah nafsu yang mengajak kearah kebaikan. Dikatakan bahwa nafsu ini mendapat pengaruh sifat air yang juga menjadi pembentuk jasad manusia.
Untuk penyebutan unsur kelima pancer ada bermacam-macam penafsiran. Ada yang mengatakan Nur Muhammad, ada yang mengartikan sebagai ‘guru sejati’, ada yang menyebut ‘roso jati sejatining roso’ (rasa sejati, sejatinya rasa). Intinya saudara pancer yang kelima itu adalah unsur ’super ego’ yang menjadi sumber nilai bagi manusia. Dalam hal ini penulis cenderung mengartikan sebagai “bashiroh” yaitu mata hati yang bersumber dari kesejatian ‘min Ruhi’ yang dianugerahkan oleh ilahi.
Keempat nafsu yang ada harus ‘dirawat’, diatur, diseimbangkan dan harus berjalan dibawah kendali akal dalam bimbingan hidayah ilahi. Itulah makna dari ‘angaweruhi’ (merawat) sedulur papat limo pancer.
Namun bagi saya, pemaknaan yang konfrenhensif yang melibatkan macam-macam pengertian yang ada itulah yang harus kita hayati. Yaitu mengakui dan menyelaraskan diri kita (mikrokosmos) sebagai bagian dari jagad besar (makrokosmos) dan sekaligus pengendalian diri kita atas nafsu-nafsu kita dibawah akal dan dalam ‘pituduh’ (petunjuk / hidayah) ilahi.
Semoga Bermanfaat
Minggu, 29 Mei 2011
Urgensi Arkanul Baiah Dalam Amal Siyasi
Pengembangan Arkanul Baiah Dan Aplikasinya
Keberimanan terhadap Islam sebagai agama samawi yang diturunkan Allah SWT memang sudah final. Tetapi, pemahaman manusia terhadap Islam tidak dapat dikatakan sudah mencapai final sehingga berhenti pada satu titik.
Jalan-jalan untuk mencapai pemahaman Islam dalam konteks syumuliyah dan takamuliyahnya adalah jalan-jalan yang sangat panjang dan beragam. Setiap zaman dan keadaan memerlukan penyajian tersendiri dari ajaran Islam yg maha dalam maknanya ini. Firman Allah SWT,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang berjihad di jalan Kami sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang berbuat kebaikan. ” (Al-Ankabuut: 69)
Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan walladziina jaahduu fiinaa adalah Rasulullah SAW, para sahabatnya, dan pengikutnya sampai hari kiamat nanti. Sedangkan yang dimaksud subulanaa adalah jalan-jalan untuk urusan dunia dan akhirat.
Terkait dengan hadits tentang Muadz bin Jabbal yang diutus oleh Rasulullah SAW ke negeri Yaman dan menyatakan akan melakukan ijtihad apabila tidak diperoleh nash dalam Al-Quran dan As-Sunnah dalam memutuskan perkara, banyak yang menekankan bahwasanya pintu ijtihad belum tertutup. Dari waktu ke waktu muncul ulama-ulama besar dengan pikiran dan pendapatnya yang segar dan baru berdasarkan pemahaman mereka tentang nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah.
Sebagian kelompok hanya memperhatikan aspek fiqh dalam masalah pembukaan ijtihad dari masa ke masa ini. Tetapi, sesungguhnya lapangan ijtihad itu luas, tidak sekadar masalah fiqh saja tetapi di dalam berbagai bidang yang terkait dg urusan dunia dan akhirat.
Seharusnya kejumudan juga ttidak terjadi pada aktivis kebangkitan Islam sebagaimana disampaikan Yusuf Qaradhawi, “Imam Hasan Al- Banna bukanlah seorang yang jumud/statis tetapi justru progresif dan dinamis. Ia selalu memanfaatkan semua yang ada di sekelilingnya, melakukan dinamisasi diri dan dakwahnya. Seandainya ia berumur panjang kita tidak tahu apa yang akan diperbuatnya. Sebab itu saudara-saudara dan pengikutnya tidak boleh statis dalam berbagai sarana, metode, ataupun bagian pemikirannya. ”
Pemahaman yang terlalu kaku dengan pendapat yang terkait dengan situasi kontekstual tertentu akan menyebabkan seorang aktivis dakwah tidak mampu berinteraksi dengan problema yang dihadapinya pada masa kini.
Demikian pula arkanul baiah yang disusun oleh Imam Hasan Al- Banna bukanlah sesuatu yang bersifat mati / jumud sehingga ia akan menjadi masa lalu dari para kader dakwah. Padahal ia harus membaca, memahami, & mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari yang terus berjalan. Interaksi formal dengan arkanul baiah sebagai sebuah pengantar ke dalam pergaulan jamaah dakwah mungkin saja telah berlalu satu, dua, lima, sepuluh, / dua puluh tahun yang lalu. Namun secara nilai penghayatan terhadap arkanul baiah terjadi setiap saat dalam berbagai lapangan medan dakwah. Penghayatan tersebut diharapkan justru semakin mendalam dari hari ke hari.
Oleh karena itu, rukun al-fahm (pemahaman) harus terus dikembangkan mengikuti jalan dakwah menuju ke-syumuliyah-an dan ke-takamuliyah-an. Begitu juga rukun ikhlas. Kualitas dan kapasitas ikhlas kita harus terus-menerus dikembangkan mengikuti perjalanan dakwah yang terus diperlebar ruang lingkupnya sesuai dengan tuntutan syumuliyah dan takamuliyah dakwah kita.
Begitu juga kualitas dan kapasitas amal kita, jihad kita, tadhiyah (pengorbanan) kita, thaah (ketaatan) kita, tsabat (kekokohan) kita, tajarrud (kesungguhan) kita, al-ukhuwah (persaudaraan) kita, dan tsiqah (kekokohan) kita harus terus-menerus dikembangkan.
Seharusnya peningkatan kualitas dan kapasitas interaksi dengan arkanul baiah mendahului ekspansi dakwah yang dilakukan agar arkanul baiah itu menjadi pemicu, pemacu, dan pemecut bagi akselerasi gerakan dakwah itu sendiri agar arkanul baiah itu mempercepat tercapainya ahdafu da'wah (sasaran-sasaran dakwah) dan ghayatu da'wah (tujuan-tujuan dakwah).
Interaksi dengan arkanul baiah sangat berpengaruh terhadap kualitas komitmen kepada dakwah dan kepada jamaah. Begitu interaksi dengan rukun-rukun itu tertinggal dan terhenti pada pada satu titik, maka komitmen yang dihasilkannya tidak mumpuni lagi untuk menyambut ekspansi dakwah yang terus-menerus berkembang.
Politik Dan Dakwah: Pandangan Hasan Al-Banna
Dakwah tidak dapat dipisahkan dari politik (siyasah) karena tujuan dakwah itu sendiri adalah untuk pengendalian (siyasah) sebagaimana firman Allah SWT,
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. ” (Al-Fath: 28)
Kehadiran Islam dalam wujud sebuah institusi yang mengendalikan telah menjadi obsesi dari Imam Syahid Hasan Al-Banna sebagaimana ungkapannya yang disampaikan kepada para pemuda, “Adalah sangat mengherankan sebuah paham seperti komunisme memiliki negara yang melindunginya, yang mendakwahkan ajarannya, yang menegakkan prinsip-prinsipnya, dan menggiring masyarakat untuk menuju ke sana. Demikian juga paham fasisme dan Nazism, keduanya memiliki bangsa yang mensucikan ajarannya, berjuang untuk menegakkannya, menanamkan kebanggaan kepada para pengikutnya, menundukkan seluruh ideologi bangsa-bangsa untuk mengekor kepadanya. Dan lebih mengherankan lagi, kita dapati berbagai ragam ideologi sosial politik di dunia ini bersatu untuk menjadi pendukung setianya. Mereka perjuangkan tegaknya dengan jiwa, pikiran, pena, harta benda, dan kesungguhan yang paripurna, hidup dan mati dipersembahkan untuknya. Namun sebaliknya, kita tidak mendapatkan tegaknya suatu pemerintahan Islam yang bekerja untuk menegakkan kewajiban dakwah Islam, yang menghimpun berbagai sisi positif yang ada di seluruh aliran ideologi dan membuang sisi negatifnya. Lalu ia persembahkan itu kepada seluruh bangsa sebagai ideologi alternatif dunia yang memberi solusi yang benar dan jelas bagi seluruh persoalan umat manusia. ”
Dalam kesempatan lain Imam Hasan Al-Banna menyatakan, “Sesungguhnya seorang muslim tidak sempurna keislamannya kecuali jika ia bertindak sebagai politisi. Pandangannya jauh ke depan terhadap persoalan umatnya, memperhatikan dan menginginkan kebaikannya. Meskipun demikian, dapat juga saya katakan bahwa pernyataan ini tidak dinyatakan oleh Islam. Setiap organisasi Islam hendaknya menyatakan dalam program-programnya bahwa ia memberi perhatian kepada persoalan politik ummatnya. Jika tidak demikian, maka ia sendiri yang sesungguhnya butuh untuk memahami makna Islam. ”
Suatu catatan penting dari Imam Hasan Al-Banna adalah peringatannya tentang adanya pemahaman yang sempit bahwa jika disebut dengan politik maka orang-orang akan segera membayangkan sebuah partai politik. Politik yang dimaksudkannya bukanlah sekadar sebuah partai politik, tetapi keseluruhan aktivitas dakwah yang dilakukan untuk mengurusi nasib umat hingga mengangkat mereka ke kedudukan sebagaimana yang diperintahkan Al-Quran di tengah-tengah manusia.
Bahkan, terhadap partai politik yang berkembang saat itu Al-Banna mempunyai kritikan-kritikan yang mendasar, “Ikhwanul Muslimun berkeyakinan bahwa partai-partai politik yang ada di Mesir didirikan dalam suasana yang tdk kondusif. Sebagian besar didorong oleh ambisi pribadi, bukan demi kemaslahatan umum. Ikhwan juga berkeyakinan bahwa partai-partai yang ada hingga kini belum dapat menentukan program dan manhajnya secara pasti. Ikhwan berkeyakinan bahwa hizbiyah (sistem kepartaian) yang seperti itu akan merusak seluruh tatanan kehidupan, memberangus kemaslahatan, merusak akhlaq, dan memporakporandakan kesatuan umat. ”
Korelasi Amal Siyasi Dengan Arkanul Baiah
Amal siyasi sebagai bagian penting dari keseluruhan amal Islami harus mendapat perhatian serius dari para aktivis dakwah dan baiat mereka kepada jalan dakwah adalah baiat mereka pula kepada amal siyasi.
Dakwah Islam tidak menyerukan sikap memisahkan diri dari persoalan-persoalan kemasyarakatan yang ada dalam tubuh umat Islam. Jika pun terdapat upaya-upaya memilah lingkungan kehidupan para aktivis dakwah dari masyarakat umum, maka tujuannya bukan untuk lari dari masyarakat yang menjadi tanggungjawab dakwahnya. Tetapi, hal itu dilakukan hanya untuk konsolidasi internal mereka agar memiliki kekuatan yang lebih besar dalam memecahkan persoalan-persoalan masyarakat tersebut. Atau, agar mereka tidak tergelincir karena tarikan-tarikan dahsyat kemaksiatan sehingga ia akhirnya justru menjadi bagian dari persoalan tersebut.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang / hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya adalah neraka jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. ” (Al-Anfaal: 16)
Kepahaman tentang amal siyasi yang dikembangkan pada saat ini boleh jadi berbeda dengan sebelumnya karena perbedaan-perbedaan situasi dan kondisi yang menyertainya. Pandangan Imam Hasan Al-Banna tentang sistem kepartaian yang menyebabkan beliau tidak mendirikan partai politik, tetapi membolehkan kesertaan dalam pemilihan umum telah diposisikan secara aktual dalam beberapa kurun terakhir. Partai-partai politik dalam berbagai bentuknya telah berdiri dan diusung oleh para aktivis dakwah di berbagai negara dalam rangka amal siyasi mereka berdasarkan syura-syura yang mereka lakukan.
Amal siyasi yang dilakukan bukanlah sekadar untuk meraih kekuasaan dan mencapai kedudukan-kedudukan tinggi dalam pemerintahan, tetapi semata-mata ditujukan bagi penegakan hukum-hukum Allah SWT di dalam masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keadilan yang telah digariskan-Nya. Inilah rukun ikhlas yang akan menjauhkan aktivis dakwah dari perangkap kediktatoran, korupsi, dan kesombongan tatkala meraih suatu kedudukan dalam kekuasaan.
Setiap aktivis menyadari sungguh-sungguh dengan kefahamannya dan keikhlasannya bahwa amal siyasi yang dilakukannya adalah bagian dari kerja besar dari tangga-tangga mihwar tasisi, mihwar tanzhimi, mihwar syabi, mihwar muasasi dan mihwar dauli. Dalam kaitan koalisi kerja teknis Imam Hasan Al-Banna menyatakan, “Tidaklah mengapa menggunakan orang-orang non-muslim –jika keadaan darurat- asalkan bukan untuk posisi jabatan strategis (dalam pemerintahan). ”
Kesungguhan dalam kerja siyasi adalah bagian dari jihad yang harus dilakukan. Kesungguhan itu akan terjadi jika aktivis dakwah menghargai dan mematuhi jalan dakwah yang telah digariskan berdasarkan syura. Tidak boleh ada seorang pun yang bermalas-malasan dalam bidang ini hanya lantaran ia merasa bukan bidangnya / tidak sependapat dengan hasil-hasil syura.
Apapun yangg disumbangkan dalam amal siyasi, mulai dari harta sampai dengan jiwa, adalah bagian dari ruhul tadhiyah (jiwa pengorbanan) di jalan dakwah. Tidak ada istilah mati sia-sia dalam suatu amal siyasi karena seluruh pengorbanannya harus diyakini akan dihisab oleh Allah SWT dengan timbangan kebaikan dakwah.
Ketaatan dalam janji setia aktivis dakwah adalah ketaatan yang penuh selama masih dalam jalan Allah & Rasul-Nya. Tidak ada ketaatan yang bersifat setengah-setengah, misalnya hanya kepada perintah-perintah / kesepakatan-kesepakatan dalam bidang sosial saja, sedang dalam politik ia membangkang. Termasuk dalam perkataan fil makrah (dalam keadaan tidak menyenangkan) adalah ketaatan kepada hal-hal yang ketika bersyura kita tidak sependapat dengan hasil keputusannya.
Keteguhan (tsabat) adalah bagian penting dalam dakwah ini dan lebih istimewa lagi dalam amal siyasi. Jika dalam amal ijtimaiy mungkin banyak pujian yang datang tetapi dalam amal siyasi kondisinya terbalik, banyak orang yang merasa terancam dengan kehadiran dakwah dan Islam di panggung politik, banyak orang yang apriori dan bahkan memusuhinya sebagai bagian dari konspirasi global yang sudah terjadi sejak masa Nabi Muhammad SAW.
Resiko-resiko yang diterima tanpa ada keteguhan akan menjadi dasar penyesalan atas keputusan yangg telah disepakati, padahal waktu adalah bagian dari solusi. Keberhasilan perjuangan seringkali tidak dapat diukur dalam waktu yang pendek.
Amal siyasi yang diperjuangkan adalah amal siyasi yang islami. Ini adalah komitmen yang tidak boleh berubah, meskipun tawaran-tawaran berbagai ideologi sangat banyak dalam dunia politik. Manhaj Islam sedemikian terang benderangnya, dan oleh karenanya aktivis dakwah tidak akan terjebak pada pemikiran dan metode yang tidak jelas hanya karena ketidaksabarannya bekerja dengan waktu. Ini adalah makna tajarrud (kemurnian total) dalam arkanul baiah yang sepuluh.
Dunia politik adalah dunia yang memiliki karakteristik tersendiri sehingga banyak orang mengatakan “politik itu kotor”. Perkataan itu sesungguhnya tidak benar karena dunia sosial, perdagangan, bahkan dunia dakwah itu sendiri dapat saja menjadi “kotor” oleh perbuatan seseorang / sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab. Namun demikian, memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak perpecahan, persengketaan, permusuhan di antara teman, intrik dan fitnah terjadi di dunia politik.
Oleh karena itu, jika rukun ukhuwah diabaikan dan tidak bekerja maksimal dalam amal siyasi, semua kemungkinan dan kekhawatiran itu dapat juga terjadi pada diri kita.
Terakhir, perlu direnungkan makna tsiqah yakni menyiapkan rasa puas kepada pemimpin atas kapasitas kepemimpinannya dan maupun keikhlasan, dengan kepuasan yang mendalam yang menghasilkan perasaan cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan. Semakin jauh jenjang organisasi dari titik pusat pengambil keputusan rukun tsiqah ini akan semakin signifikan dalam membangun komitmen.
Tentu, rukun ini tidak menghilangkan fungsi pemimpin sebagai guru dan pembimbing kepada para anggota sehingga kepuasan itu hadir dengan penuh qanaah tidak terpaksa. Keputusan-keputusan dalam amal siyasi dalam kadar tertentu kadangkala memang begitu rumit karena demikian kompleksnya persoalan yang dihadapi. Ketsiqahan di antara aktivis dakwah dapat mengurangi kemungkinan terjadinya degradasi soliditas karena adanya keputusan-keputusan qiyadah yang belum terpahami.
Kontribusi Komitmen Baiah Aktual Dalam Dakwah
Kekuatan interaksi terhadap arkanul baiah akan dapat mempertahankan penampilan kinerja dan manhaj amaliy aktivis dakwah sehingga bisa diandalkan dalam persaingan antar aliran, antar ahzab (partai-partai) dengan aneka ragam mabadi (ideology). Insya Allah dengan komitmen interaktif yang kontinyu terhadap arkanul baiah jamaah dakwah akan mempunyai mazhhar (penampilan) yang sanggup menghadapi tantangan rivalitas yang semakin tajam antar aliran ideologis dan antarpemikiran yang ada di lapangan.
Ustadz Hilmi Aminuddin menyatakan mazhhar jamaah yang diharapkan tumbuh dan berkembang dari interaksi dengan arkanul baiah yang terus-menerus itu ialah:
Pertama, mazhhar atsbatu mauqifan (penampilan dalam kekokohan sikap) yakni sikap yang paling teguh di antara sikap-sikap yang ditampilkan oleh golongan-golongan, madzhab-madzhab dan aliran-aliran lain. Sikap yang tidak mudzabdzab, (plin-plan), yang tidak mencla-mencle, yang tidak memble menghadapi tantangan-tantangan yang semakin kuat dan terang-terangan.
Sekali lagi, tantangan yang semakin terang-terangan mengingat kita sekarang ada di era jahriyah (keterbukaan). Sikap teguh kita harus ditampilkan secara penuh dalam kinerja, performance dakwah jamaah, dan partai kita. Kekokohan sikap adalah tampilan awal yang merupakan buah dari kekuatan yang ditumbuhkan oleh aqidah kita.
Kedua, mazhar arhabu shadran. Keteguhan sikap itu tidak melahirkan sikap yang kaku karena selain ada aqidah yang rasikh, aqidah yang kuat, tetapi juga ada akhlaqul karimah yang akan melahirkan arhabu shadran (kelapangan dada). Di atas kekokohan sikap itu kita paling bisa dan paling sanggup berlapang dada dalam menghadapi realitas kehidupan, dalam menghadapi tantangan, dalam bermuamalah menghadapi berbagai sikap-sikap lain. Termasuk ketika kita berinteraksi dengan sesama kelompok Islam yang kebetulan mereka belum satu manhaj dengan kita dengan perlakuan dan sikap-sikap mereka yang tidak menyenangkan.
Ketiga, mazhar amaqu fikran (penampilan kedalaman dalam berfikir) dalam menghadapi aneka situasi dan kondisi sehingga kita tidak meresponnya secara istijaliyah (ketergesa-gesaan). Kita selalu berfikir secara mutaanni (sangat mendalam) dan mutamain (intens), dalam menentukan langkah-langkah kita dengan proses dan prosedur yang benar yang sudah kita sepakati bersama. Tidak boleh ada satupun keputusan jamaah ini yang tanpa melalui proses amaqu fikran yang dalam prakteknya kita wujudkan dalam wadah syura yang selalu kita jaga. Sehingga tidak ada alasan dari kita untuk tidak mendukung sikap yang diambil oleh jamaah, karena proses dan prosedur yang diambil sudah benar dengan tetap tidak terburu-buru.
Keempat, dalam memandang fenomena kehidupan dan perjuangan ini kita harus mempunyai mazhhar awsa nazharan (penampilan dengan pandangan yang lebih luas). Kita harus mempunyai pandangan yang sangat luas, seluas ufuq yang bisa dijangkau oleh mata kita. Kita tidak boleh mempunyai pandangan mutajamid (pandangan kebekuan) yang sempit, hizbiyah (mengagungkan golongan) dan madzhabiyah (mengagungkan aliran). Kita harus memiliki pandangan yang sangat luas karena sasaran dari dakwah yang sudah dicanangkan adalah bina-ul fard (peminaan individu), bina-ul mujtama (peminaan masyarakat), bina-ud daulah (pembangunan negara), bina-ul khilafah (pembangunan khilfah) hingga ustadziyatul ‘alam (sokoguru semesta alam).
Di sana kita harus memancangkan rahmatan lil ‘alamin sehingga setiap makhluk hidup–bukan manusia saja–merasakan sentuhan rahmat dari kita. Tidak mungkin kita melakukan itu bila kita tdk mempunyai pandangan yang sangat luas terhadap kehidupan ini.
Kelima, kita harus didukung dengan mazhhar ansyathu ‘amalan (penampilan sebagai pihak yang paling giat bekerja). Karena mazhhar-mazhhar sebelumnya harus dibuktikan dalam ansyathu ‘amalan (kegiatan kerja). Hendaknya beramal paling keras dan menjadi aktivis/amilin yang paling giat, efektif dalam mengarahkan tenaga dan potensinya serta langkah-langkahnya selalu terarah dengan tepat (khutuwat al-athifah). Itu adalah refleksi dari aqidah dan fikrah kita.
Keenam, begitu juga kita menyadari sepenuhnya bahwa syumuliyatul Islam tdk mungkin diperjuangkan secara individual, tapi harus diperjuangkan secara jamaiy (kolektif). Maka, kita pun harus menampilkan secara struktural ashlabu tanzhiman (organisasi yang paling solid dan kokoh bagaikan baja). Tanzhim kita tanzhim yang kokoh tidak gampang reot oleh benturan-benturan yang diarahkan oleh lawan-lawan, musuh-musuh, pesaing-pesaing, / oleh orang-orang yang belum memahami dakwah kita.
Kita tetap teguh. Keputusan jamaah tidak pernah dihasilkan oleh pressure, tekanan, ancaman apapun. Semuanya, yang penting, proses prosedur berjalan maka kita putuskan dengan mengabaikan tekanan dari manapun. Ini sebagai pembuktian dari ashlabu tanzhiman.
Pada akhirnya yang ketujuh adalah mazhhar aktsaru nafan (penampilan sebagai pihak yang paling banyak memberi manfaat). Dulu sering saya katakan bahwa kita dituntut oleh Allah SWT untuk menjadi orang-orang yang produktif menghasilkan kebajikan-kebajikan. Sebab, pada dasarnya secara fitriyah kita sudah menjadi orang-orang yang konsumtif. Kalau masalah konsumtif tidak perlu didorong, tidak perlu diprogram, karena sudah menjadi tabiat dasar. Begitu lahir kita mengkonsumsi kebajikan ibu, kebajikan ayah, kebajikan saudara-saudara kita, kebajikan tetangga-tetangga yang menimang-nimang kita.
Wallahu alam.
Salam Djimodji
Keberimanan terhadap Islam sebagai agama samawi yang diturunkan Allah SWT memang sudah final. Tetapi, pemahaman manusia terhadap Islam tidak dapat dikatakan sudah mencapai final sehingga berhenti pada satu titik.
Jalan-jalan untuk mencapai pemahaman Islam dalam konteks syumuliyah dan takamuliyahnya adalah jalan-jalan yang sangat panjang dan beragam. Setiap zaman dan keadaan memerlukan penyajian tersendiri dari ajaran Islam yg maha dalam maknanya ini. Firman Allah SWT,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang berjihad di jalan Kami sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang berbuat kebaikan. ” (Al-Ankabuut: 69)
Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan walladziina jaahduu fiinaa adalah Rasulullah SAW, para sahabatnya, dan pengikutnya sampai hari kiamat nanti. Sedangkan yang dimaksud subulanaa adalah jalan-jalan untuk urusan dunia dan akhirat.
Terkait dengan hadits tentang Muadz bin Jabbal yang diutus oleh Rasulullah SAW ke negeri Yaman dan menyatakan akan melakukan ijtihad apabila tidak diperoleh nash dalam Al-Quran dan As-Sunnah dalam memutuskan perkara, banyak yang menekankan bahwasanya pintu ijtihad belum tertutup. Dari waktu ke waktu muncul ulama-ulama besar dengan pikiran dan pendapatnya yang segar dan baru berdasarkan pemahaman mereka tentang nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah.
Sebagian kelompok hanya memperhatikan aspek fiqh dalam masalah pembukaan ijtihad dari masa ke masa ini. Tetapi, sesungguhnya lapangan ijtihad itu luas, tidak sekadar masalah fiqh saja tetapi di dalam berbagai bidang yang terkait dg urusan dunia dan akhirat.
Seharusnya kejumudan juga ttidak terjadi pada aktivis kebangkitan Islam sebagaimana disampaikan Yusuf Qaradhawi, “Imam Hasan Al- Banna bukanlah seorang yang jumud/statis tetapi justru progresif dan dinamis. Ia selalu memanfaatkan semua yang ada di sekelilingnya, melakukan dinamisasi diri dan dakwahnya. Seandainya ia berumur panjang kita tidak tahu apa yang akan diperbuatnya. Sebab itu saudara-saudara dan pengikutnya tidak boleh statis dalam berbagai sarana, metode, ataupun bagian pemikirannya. ”
Pemahaman yang terlalu kaku dengan pendapat yang terkait dengan situasi kontekstual tertentu akan menyebabkan seorang aktivis dakwah tidak mampu berinteraksi dengan problema yang dihadapinya pada masa kini.
Demikian pula arkanul baiah yang disusun oleh Imam Hasan Al- Banna bukanlah sesuatu yang bersifat mati / jumud sehingga ia akan menjadi masa lalu dari para kader dakwah. Padahal ia harus membaca, memahami, & mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari yang terus berjalan. Interaksi formal dengan arkanul baiah sebagai sebuah pengantar ke dalam pergaulan jamaah dakwah mungkin saja telah berlalu satu, dua, lima, sepuluh, / dua puluh tahun yang lalu. Namun secara nilai penghayatan terhadap arkanul baiah terjadi setiap saat dalam berbagai lapangan medan dakwah. Penghayatan tersebut diharapkan justru semakin mendalam dari hari ke hari.
Oleh karena itu, rukun al-fahm (pemahaman) harus terus dikembangkan mengikuti jalan dakwah menuju ke-syumuliyah-an dan ke-takamuliyah-an. Begitu juga rukun ikhlas. Kualitas dan kapasitas ikhlas kita harus terus-menerus dikembangkan mengikuti perjalanan dakwah yang terus diperlebar ruang lingkupnya sesuai dengan tuntutan syumuliyah dan takamuliyah dakwah kita.
Begitu juga kualitas dan kapasitas amal kita, jihad kita, tadhiyah (pengorbanan) kita, thaah (ketaatan) kita, tsabat (kekokohan) kita, tajarrud (kesungguhan) kita, al-ukhuwah (persaudaraan) kita, dan tsiqah (kekokohan) kita harus terus-menerus dikembangkan.
Seharusnya peningkatan kualitas dan kapasitas interaksi dengan arkanul baiah mendahului ekspansi dakwah yang dilakukan agar arkanul baiah itu menjadi pemicu, pemacu, dan pemecut bagi akselerasi gerakan dakwah itu sendiri agar arkanul baiah itu mempercepat tercapainya ahdafu da'wah (sasaran-sasaran dakwah) dan ghayatu da'wah (tujuan-tujuan dakwah).
Interaksi dengan arkanul baiah sangat berpengaruh terhadap kualitas komitmen kepada dakwah dan kepada jamaah. Begitu interaksi dengan rukun-rukun itu tertinggal dan terhenti pada pada satu titik, maka komitmen yang dihasilkannya tidak mumpuni lagi untuk menyambut ekspansi dakwah yang terus-menerus berkembang.
Politik Dan Dakwah: Pandangan Hasan Al-Banna
Dakwah tidak dapat dipisahkan dari politik (siyasah) karena tujuan dakwah itu sendiri adalah untuk pengendalian (siyasah) sebagaimana firman Allah SWT,
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. ” (Al-Fath: 28)
Kehadiran Islam dalam wujud sebuah institusi yang mengendalikan telah menjadi obsesi dari Imam Syahid Hasan Al-Banna sebagaimana ungkapannya yang disampaikan kepada para pemuda, “Adalah sangat mengherankan sebuah paham seperti komunisme memiliki negara yang melindunginya, yang mendakwahkan ajarannya, yang menegakkan prinsip-prinsipnya, dan menggiring masyarakat untuk menuju ke sana. Demikian juga paham fasisme dan Nazism, keduanya memiliki bangsa yang mensucikan ajarannya, berjuang untuk menegakkannya, menanamkan kebanggaan kepada para pengikutnya, menundukkan seluruh ideologi bangsa-bangsa untuk mengekor kepadanya. Dan lebih mengherankan lagi, kita dapati berbagai ragam ideologi sosial politik di dunia ini bersatu untuk menjadi pendukung setianya. Mereka perjuangkan tegaknya dengan jiwa, pikiran, pena, harta benda, dan kesungguhan yang paripurna, hidup dan mati dipersembahkan untuknya. Namun sebaliknya, kita tidak mendapatkan tegaknya suatu pemerintahan Islam yang bekerja untuk menegakkan kewajiban dakwah Islam, yang menghimpun berbagai sisi positif yang ada di seluruh aliran ideologi dan membuang sisi negatifnya. Lalu ia persembahkan itu kepada seluruh bangsa sebagai ideologi alternatif dunia yang memberi solusi yang benar dan jelas bagi seluruh persoalan umat manusia. ”
Dalam kesempatan lain Imam Hasan Al-Banna menyatakan, “Sesungguhnya seorang muslim tidak sempurna keislamannya kecuali jika ia bertindak sebagai politisi. Pandangannya jauh ke depan terhadap persoalan umatnya, memperhatikan dan menginginkan kebaikannya. Meskipun demikian, dapat juga saya katakan bahwa pernyataan ini tidak dinyatakan oleh Islam. Setiap organisasi Islam hendaknya menyatakan dalam program-programnya bahwa ia memberi perhatian kepada persoalan politik ummatnya. Jika tidak demikian, maka ia sendiri yang sesungguhnya butuh untuk memahami makna Islam. ”
Suatu catatan penting dari Imam Hasan Al-Banna adalah peringatannya tentang adanya pemahaman yang sempit bahwa jika disebut dengan politik maka orang-orang akan segera membayangkan sebuah partai politik. Politik yang dimaksudkannya bukanlah sekadar sebuah partai politik, tetapi keseluruhan aktivitas dakwah yang dilakukan untuk mengurusi nasib umat hingga mengangkat mereka ke kedudukan sebagaimana yang diperintahkan Al-Quran di tengah-tengah manusia.
Bahkan, terhadap partai politik yang berkembang saat itu Al-Banna mempunyai kritikan-kritikan yang mendasar, “Ikhwanul Muslimun berkeyakinan bahwa partai-partai politik yang ada di Mesir didirikan dalam suasana yang tdk kondusif. Sebagian besar didorong oleh ambisi pribadi, bukan demi kemaslahatan umum. Ikhwan juga berkeyakinan bahwa partai-partai yang ada hingga kini belum dapat menentukan program dan manhajnya secara pasti. Ikhwan berkeyakinan bahwa hizbiyah (sistem kepartaian) yang seperti itu akan merusak seluruh tatanan kehidupan, memberangus kemaslahatan, merusak akhlaq, dan memporakporandakan kesatuan umat. ”
Korelasi Amal Siyasi Dengan Arkanul Baiah
Amal siyasi sebagai bagian penting dari keseluruhan amal Islami harus mendapat perhatian serius dari para aktivis dakwah dan baiat mereka kepada jalan dakwah adalah baiat mereka pula kepada amal siyasi.
Dakwah Islam tidak menyerukan sikap memisahkan diri dari persoalan-persoalan kemasyarakatan yang ada dalam tubuh umat Islam. Jika pun terdapat upaya-upaya memilah lingkungan kehidupan para aktivis dakwah dari masyarakat umum, maka tujuannya bukan untuk lari dari masyarakat yang menjadi tanggungjawab dakwahnya. Tetapi, hal itu dilakukan hanya untuk konsolidasi internal mereka agar memiliki kekuatan yang lebih besar dalam memecahkan persoalan-persoalan masyarakat tersebut. Atau, agar mereka tidak tergelincir karena tarikan-tarikan dahsyat kemaksiatan sehingga ia akhirnya justru menjadi bagian dari persoalan tersebut.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang / hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya adalah neraka jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. ” (Al-Anfaal: 16)
Kepahaman tentang amal siyasi yang dikembangkan pada saat ini boleh jadi berbeda dengan sebelumnya karena perbedaan-perbedaan situasi dan kondisi yang menyertainya. Pandangan Imam Hasan Al-Banna tentang sistem kepartaian yang menyebabkan beliau tidak mendirikan partai politik, tetapi membolehkan kesertaan dalam pemilihan umum telah diposisikan secara aktual dalam beberapa kurun terakhir. Partai-partai politik dalam berbagai bentuknya telah berdiri dan diusung oleh para aktivis dakwah di berbagai negara dalam rangka amal siyasi mereka berdasarkan syura-syura yang mereka lakukan.
Amal siyasi yang dilakukan bukanlah sekadar untuk meraih kekuasaan dan mencapai kedudukan-kedudukan tinggi dalam pemerintahan, tetapi semata-mata ditujukan bagi penegakan hukum-hukum Allah SWT di dalam masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keadilan yang telah digariskan-Nya. Inilah rukun ikhlas yang akan menjauhkan aktivis dakwah dari perangkap kediktatoran, korupsi, dan kesombongan tatkala meraih suatu kedudukan dalam kekuasaan.
Setiap aktivis menyadari sungguh-sungguh dengan kefahamannya dan keikhlasannya bahwa amal siyasi yang dilakukannya adalah bagian dari kerja besar dari tangga-tangga mihwar tasisi, mihwar tanzhimi, mihwar syabi, mihwar muasasi dan mihwar dauli. Dalam kaitan koalisi kerja teknis Imam Hasan Al-Banna menyatakan, “Tidaklah mengapa menggunakan orang-orang non-muslim –jika keadaan darurat- asalkan bukan untuk posisi jabatan strategis (dalam pemerintahan). ”
Kesungguhan dalam kerja siyasi adalah bagian dari jihad yang harus dilakukan. Kesungguhan itu akan terjadi jika aktivis dakwah menghargai dan mematuhi jalan dakwah yang telah digariskan berdasarkan syura. Tidak boleh ada seorang pun yang bermalas-malasan dalam bidang ini hanya lantaran ia merasa bukan bidangnya / tidak sependapat dengan hasil-hasil syura.
Apapun yangg disumbangkan dalam amal siyasi, mulai dari harta sampai dengan jiwa, adalah bagian dari ruhul tadhiyah (jiwa pengorbanan) di jalan dakwah. Tidak ada istilah mati sia-sia dalam suatu amal siyasi karena seluruh pengorbanannya harus diyakini akan dihisab oleh Allah SWT dengan timbangan kebaikan dakwah.
Ketaatan dalam janji setia aktivis dakwah adalah ketaatan yang penuh selama masih dalam jalan Allah & Rasul-Nya. Tidak ada ketaatan yang bersifat setengah-setengah, misalnya hanya kepada perintah-perintah / kesepakatan-kesepakatan dalam bidang sosial saja, sedang dalam politik ia membangkang. Termasuk dalam perkataan fil makrah (dalam keadaan tidak menyenangkan) adalah ketaatan kepada hal-hal yang ketika bersyura kita tidak sependapat dengan hasil keputusannya.
Keteguhan (tsabat) adalah bagian penting dalam dakwah ini dan lebih istimewa lagi dalam amal siyasi. Jika dalam amal ijtimaiy mungkin banyak pujian yang datang tetapi dalam amal siyasi kondisinya terbalik, banyak orang yang merasa terancam dengan kehadiran dakwah dan Islam di panggung politik, banyak orang yang apriori dan bahkan memusuhinya sebagai bagian dari konspirasi global yang sudah terjadi sejak masa Nabi Muhammad SAW.
Resiko-resiko yang diterima tanpa ada keteguhan akan menjadi dasar penyesalan atas keputusan yangg telah disepakati, padahal waktu adalah bagian dari solusi. Keberhasilan perjuangan seringkali tidak dapat diukur dalam waktu yang pendek.
Amal siyasi yang diperjuangkan adalah amal siyasi yang islami. Ini adalah komitmen yang tidak boleh berubah, meskipun tawaran-tawaran berbagai ideologi sangat banyak dalam dunia politik. Manhaj Islam sedemikian terang benderangnya, dan oleh karenanya aktivis dakwah tidak akan terjebak pada pemikiran dan metode yang tidak jelas hanya karena ketidaksabarannya bekerja dengan waktu. Ini adalah makna tajarrud (kemurnian total) dalam arkanul baiah yang sepuluh.
Dunia politik adalah dunia yang memiliki karakteristik tersendiri sehingga banyak orang mengatakan “politik itu kotor”. Perkataan itu sesungguhnya tidak benar karena dunia sosial, perdagangan, bahkan dunia dakwah itu sendiri dapat saja menjadi “kotor” oleh perbuatan seseorang / sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab. Namun demikian, memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak perpecahan, persengketaan, permusuhan di antara teman, intrik dan fitnah terjadi di dunia politik.
Oleh karena itu, jika rukun ukhuwah diabaikan dan tidak bekerja maksimal dalam amal siyasi, semua kemungkinan dan kekhawatiran itu dapat juga terjadi pada diri kita.
Terakhir, perlu direnungkan makna tsiqah yakni menyiapkan rasa puas kepada pemimpin atas kapasitas kepemimpinannya dan maupun keikhlasan, dengan kepuasan yang mendalam yang menghasilkan perasaan cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan. Semakin jauh jenjang organisasi dari titik pusat pengambil keputusan rukun tsiqah ini akan semakin signifikan dalam membangun komitmen.
Tentu, rukun ini tidak menghilangkan fungsi pemimpin sebagai guru dan pembimbing kepada para anggota sehingga kepuasan itu hadir dengan penuh qanaah tidak terpaksa. Keputusan-keputusan dalam amal siyasi dalam kadar tertentu kadangkala memang begitu rumit karena demikian kompleksnya persoalan yang dihadapi. Ketsiqahan di antara aktivis dakwah dapat mengurangi kemungkinan terjadinya degradasi soliditas karena adanya keputusan-keputusan qiyadah yang belum terpahami.
Kontribusi Komitmen Baiah Aktual Dalam Dakwah
Kekuatan interaksi terhadap arkanul baiah akan dapat mempertahankan penampilan kinerja dan manhaj amaliy aktivis dakwah sehingga bisa diandalkan dalam persaingan antar aliran, antar ahzab (partai-partai) dengan aneka ragam mabadi (ideology). Insya Allah dengan komitmen interaktif yang kontinyu terhadap arkanul baiah jamaah dakwah akan mempunyai mazhhar (penampilan) yang sanggup menghadapi tantangan rivalitas yang semakin tajam antar aliran ideologis dan antarpemikiran yang ada di lapangan.
Ustadz Hilmi Aminuddin menyatakan mazhhar jamaah yang diharapkan tumbuh dan berkembang dari interaksi dengan arkanul baiah yang terus-menerus itu ialah:
Pertama, mazhhar atsbatu mauqifan (penampilan dalam kekokohan sikap) yakni sikap yang paling teguh di antara sikap-sikap yang ditampilkan oleh golongan-golongan, madzhab-madzhab dan aliran-aliran lain. Sikap yang tidak mudzabdzab, (plin-plan), yang tidak mencla-mencle, yang tidak memble menghadapi tantangan-tantangan yang semakin kuat dan terang-terangan.
Sekali lagi, tantangan yang semakin terang-terangan mengingat kita sekarang ada di era jahriyah (keterbukaan). Sikap teguh kita harus ditampilkan secara penuh dalam kinerja, performance dakwah jamaah, dan partai kita. Kekokohan sikap adalah tampilan awal yang merupakan buah dari kekuatan yang ditumbuhkan oleh aqidah kita.
Kedua, mazhar arhabu shadran. Keteguhan sikap itu tidak melahirkan sikap yang kaku karena selain ada aqidah yang rasikh, aqidah yang kuat, tetapi juga ada akhlaqul karimah yang akan melahirkan arhabu shadran (kelapangan dada). Di atas kekokohan sikap itu kita paling bisa dan paling sanggup berlapang dada dalam menghadapi realitas kehidupan, dalam menghadapi tantangan, dalam bermuamalah menghadapi berbagai sikap-sikap lain. Termasuk ketika kita berinteraksi dengan sesama kelompok Islam yang kebetulan mereka belum satu manhaj dengan kita dengan perlakuan dan sikap-sikap mereka yang tidak menyenangkan.
Ketiga, mazhar amaqu fikran (penampilan kedalaman dalam berfikir) dalam menghadapi aneka situasi dan kondisi sehingga kita tidak meresponnya secara istijaliyah (ketergesa-gesaan). Kita selalu berfikir secara mutaanni (sangat mendalam) dan mutamain (intens), dalam menentukan langkah-langkah kita dengan proses dan prosedur yang benar yang sudah kita sepakati bersama. Tidak boleh ada satupun keputusan jamaah ini yang tanpa melalui proses amaqu fikran yang dalam prakteknya kita wujudkan dalam wadah syura yang selalu kita jaga. Sehingga tidak ada alasan dari kita untuk tidak mendukung sikap yang diambil oleh jamaah, karena proses dan prosedur yang diambil sudah benar dengan tetap tidak terburu-buru.
Keempat, dalam memandang fenomena kehidupan dan perjuangan ini kita harus mempunyai mazhhar awsa nazharan (penampilan dengan pandangan yang lebih luas). Kita harus mempunyai pandangan yang sangat luas, seluas ufuq yang bisa dijangkau oleh mata kita. Kita tidak boleh mempunyai pandangan mutajamid (pandangan kebekuan) yang sempit, hizbiyah (mengagungkan golongan) dan madzhabiyah (mengagungkan aliran). Kita harus memiliki pandangan yang sangat luas karena sasaran dari dakwah yang sudah dicanangkan adalah bina-ul fard (peminaan individu), bina-ul mujtama (peminaan masyarakat), bina-ud daulah (pembangunan negara), bina-ul khilafah (pembangunan khilfah) hingga ustadziyatul ‘alam (sokoguru semesta alam).
Di sana kita harus memancangkan rahmatan lil ‘alamin sehingga setiap makhluk hidup–bukan manusia saja–merasakan sentuhan rahmat dari kita. Tidak mungkin kita melakukan itu bila kita tdk mempunyai pandangan yang sangat luas terhadap kehidupan ini.
Kelima, kita harus didukung dengan mazhhar ansyathu ‘amalan (penampilan sebagai pihak yang paling giat bekerja). Karena mazhhar-mazhhar sebelumnya harus dibuktikan dalam ansyathu ‘amalan (kegiatan kerja). Hendaknya beramal paling keras dan menjadi aktivis/amilin yang paling giat, efektif dalam mengarahkan tenaga dan potensinya serta langkah-langkahnya selalu terarah dengan tepat (khutuwat al-athifah). Itu adalah refleksi dari aqidah dan fikrah kita.
Keenam, begitu juga kita menyadari sepenuhnya bahwa syumuliyatul Islam tdk mungkin diperjuangkan secara individual, tapi harus diperjuangkan secara jamaiy (kolektif). Maka, kita pun harus menampilkan secara struktural ashlabu tanzhiman (organisasi yang paling solid dan kokoh bagaikan baja). Tanzhim kita tanzhim yang kokoh tidak gampang reot oleh benturan-benturan yang diarahkan oleh lawan-lawan, musuh-musuh, pesaing-pesaing, / oleh orang-orang yang belum memahami dakwah kita.
Kita tetap teguh. Keputusan jamaah tidak pernah dihasilkan oleh pressure, tekanan, ancaman apapun. Semuanya, yang penting, proses prosedur berjalan maka kita putuskan dengan mengabaikan tekanan dari manapun. Ini sebagai pembuktian dari ashlabu tanzhiman.
Pada akhirnya yang ketujuh adalah mazhhar aktsaru nafan (penampilan sebagai pihak yang paling banyak memberi manfaat). Dulu sering saya katakan bahwa kita dituntut oleh Allah SWT untuk menjadi orang-orang yang produktif menghasilkan kebajikan-kebajikan. Sebab, pada dasarnya secara fitriyah kita sudah menjadi orang-orang yang konsumtif. Kalau masalah konsumtif tidak perlu didorong, tidak perlu diprogram, karena sudah menjadi tabiat dasar. Begitu lahir kita mengkonsumsi kebajikan ibu, kebajikan ayah, kebajikan saudara-saudara kita, kebajikan tetangga-tetangga yang menimang-nimang kita.
Wallahu alam.
Salam Djimodji
Jumat, 27 Mei 2011
Tingkatin Rasa Syukur
Untuk meraih sukses kita perlu meningkatkan rasa syukur kita terhadap pemberian nikmat Allah kepada kita. Bagaimana tidak, kita sudah belajar bagaimana manfaat syukur yang luar biasa dalam kehidupan kita. Namun, yang menjadi pertanyaan, kenapa masih banyak orang yang tidak atau kurang bersyukur? Atau ada juga orang yang merasa sudah bersyukur, tetapi dia merasa tidak ada tambahan nikmat sesuai dengan janji Allah. Padahal janji Allah tidak mungkin salah. Artinya cara bersyukur kita yang salah, kita merasa bersyukur padahal kita belum bersyukur.
Tiga Kesalahan Dalam Bersyukur
Jika kita bersyukur, nikmat kita akan ditambah oleh Allah. Mungkin, kita sudah hafal ayat Al Quran yang menjelaskan hal ini:
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu (QS Ibrahim:7)
Lalu, mengapa ada orang yang merasa sudah bersyukur tetapi merasa tidak mendapatkan nikmat tambahan? Karena janji Allah tidak mungkin salah, artinya ada yang salah dengan diri kita.
Ada tiga kemungkinan:
* Pertama: cara kita bersyukur yang salah.
* Kedua: kita kurang peka terhadap nikmat yang sebenarnya sudah Allah berikan kepada kita.
* Ketiga: Allah memberikan nikmat lain yang terbaik bagi kita, tapi kita tidak
menyadarinya.
Pada kali ini, saya akan fokus menyoroti tentang point kedua dan ketiga. Dengan dua penyebab itu, kita akan kurang bersyukur. Jika kita kurang bersyukur, maka wajar jika nikmat tidak kunjung datang. Kita harus terus meningkatkan rasa syukur kita terhadap nikmat Allah.
Bagaimana cara meningkatkan rasa syukur?
1. Luangkan waktu untuk merenungkan nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita.
Nikmat itu sangat banyak, bahkan tidak akan terhitung. Lalu mengapa banyak orang yang
merasa tidak mendapatkan nikmat? Karena mereka kurang memberikan perhatian terhadap
nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan.
Allah mengulang-ngulang ayat “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
dalam surah ar Rahmaan, dimana salah satu hikmahnya adalah agar kita lebih memperhatikan
nikmat-nikmat. Saat kita memberikan perhatian terhadap nikmat, kita akan melihat, kita
akan ngeh, bahwa nikmat Allah yang kita terima sangat banyak.
2. Berprasangka baiklah kepada Allah. Banyak nikmat yang tidak terlihat bagi kita.
Kita sering menganggap bahwa nikmat itu harus dalam bentuk materi, padahal lebih luas
dari itu. Seringkali kita menganggap bahwa nikmat itu adalah sebuah pemberian, padahal
bisa saja Allah sudah menghindarkan kita dari suatu musibah yang asalnya akan menimpa
kita. Mungkin tidak ada yang bertambah pada diri kita, tetapi terhindar dari musibah
bukankan sebuah nikmat yang besar? Renungkanlah…
3. Setelah kita mengetahui bahwa nikmat Allah begitu banyaknya, maka langkah selanjutnya
ialah memasukan pengetahuan ini ke dalam hati. Agar melekat dengan diri kita sehingga
rasa syukur kita akan bertambah. Caranya ialah terus menerus mengingat nikmat dalam
berbagai kesempatan. Semakin sering kita mengingat nikmat, akan semakin tertancap dalam
hati, maka rasa syukur pun akan meningkat.
Jadi cara meningkatkan rasa syukur diawali dengan pengetahuan akan nikmat yang telah kita terima. Namun tidak cukup hanya pengetahuan saja, karena banyak orang yang tahu tetapi kurang bersyukur. Pengetahuan akan nikmat ini harus tertanam dalam hati kita.
Kita sudah mengetahui bagaimana cara meningkatkan rasa syukur. Muda-mudahan dengan meningkat rasa syukur, nikmat kita akan bertambah.
Semoga bermanfaat
Salam Djimodji
Tiga Kesalahan Dalam Bersyukur
Jika kita bersyukur, nikmat kita akan ditambah oleh Allah. Mungkin, kita sudah hafal ayat Al Quran yang menjelaskan hal ini:
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu (QS Ibrahim:7)
Lalu, mengapa ada orang yang merasa sudah bersyukur tetapi merasa tidak mendapatkan nikmat tambahan? Karena janji Allah tidak mungkin salah, artinya ada yang salah dengan diri kita.
Ada tiga kemungkinan:
* Pertama: cara kita bersyukur yang salah.
* Kedua: kita kurang peka terhadap nikmat yang sebenarnya sudah Allah berikan kepada kita.
* Ketiga: Allah memberikan nikmat lain yang terbaik bagi kita, tapi kita tidak
menyadarinya.
Pada kali ini, saya akan fokus menyoroti tentang point kedua dan ketiga. Dengan dua penyebab itu, kita akan kurang bersyukur. Jika kita kurang bersyukur, maka wajar jika nikmat tidak kunjung datang. Kita harus terus meningkatkan rasa syukur kita terhadap nikmat Allah.
Bagaimana cara meningkatkan rasa syukur?
1. Luangkan waktu untuk merenungkan nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita.
Nikmat itu sangat banyak, bahkan tidak akan terhitung. Lalu mengapa banyak orang yang
merasa tidak mendapatkan nikmat? Karena mereka kurang memberikan perhatian terhadap
nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan.
Allah mengulang-ngulang ayat “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
dalam surah ar Rahmaan, dimana salah satu hikmahnya adalah agar kita lebih memperhatikan
nikmat-nikmat. Saat kita memberikan perhatian terhadap nikmat, kita akan melihat, kita
akan ngeh, bahwa nikmat Allah yang kita terima sangat banyak.
2. Berprasangka baiklah kepada Allah. Banyak nikmat yang tidak terlihat bagi kita.
Kita sering menganggap bahwa nikmat itu harus dalam bentuk materi, padahal lebih luas
dari itu. Seringkali kita menganggap bahwa nikmat itu adalah sebuah pemberian, padahal
bisa saja Allah sudah menghindarkan kita dari suatu musibah yang asalnya akan menimpa
kita. Mungkin tidak ada yang bertambah pada diri kita, tetapi terhindar dari musibah
bukankan sebuah nikmat yang besar? Renungkanlah…
3. Setelah kita mengetahui bahwa nikmat Allah begitu banyaknya, maka langkah selanjutnya
ialah memasukan pengetahuan ini ke dalam hati. Agar melekat dengan diri kita sehingga
rasa syukur kita akan bertambah. Caranya ialah terus menerus mengingat nikmat dalam
berbagai kesempatan. Semakin sering kita mengingat nikmat, akan semakin tertancap dalam
hati, maka rasa syukur pun akan meningkat.
Jadi cara meningkatkan rasa syukur diawali dengan pengetahuan akan nikmat yang telah kita terima. Namun tidak cukup hanya pengetahuan saja, karena banyak orang yang tahu tetapi kurang bersyukur. Pengetahuan akan nikmat ini harus tertanam dalam hati kita.
Kita sudah mengetahui bagaimana cara meningkatkan rasa syukur. Muda-mudahan dengan meningkat rasa syukur, nikmat kita akan bertambah.
Semoga bermanfaat
Salam Djimodji
Senin, 23 Mei 2011
Makna Filosofi Semar
Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar
Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan
Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : "Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tunggal". Sedang tangan kirinya bermakna "berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik".
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa.
Rambut semar "kuncung" (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.
Semar barjalan menghadap keatas maknanya : "dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat".
Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : menegakan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri sosok semar adalah
- Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
- Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
- Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
- Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
- Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya
Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.
Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .
Semar (pralambang ngelmu gaib) - kasampurnaning pati.
Gambar kaligrafi jawa tersebut bermakna :
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya "merdekanya jiwa dan sukma", maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : "dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup".
Salam Djimodji
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar
Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan
Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : "Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tunggal". Sedang tangan kirinya bermakna "berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik".
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa.
Rambut semar "kuncung" (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.
Semar barjalan menghadap keatas maknanya : "dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat".
Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : menegakan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri sosok semar adalah
- Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
- Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
- Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
- Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
- Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya
Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.
Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .
Semar (pralambang ngelmu gaib) - kasampurnaning pati.
Gambar kaligrafi jawa tersebut bermakna :
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya "merdekanya jiwa dan sukma", maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : "dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup".
Salam Djimodji
Sabtu, 14 Mei 2011
Sifat: ALUAMAH, SUPIYAH, AMARAH dan MUTMAINAH Dalam MAKNA BENDERA DJIMODJI

Nafsu Aluamah sebagai perwujudan sahabat hidup manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia kearah berani membunuh dan kejam apabila diganggu oleh orang lain disimbolkan warna hitam sebagai perwujudanya kulit Selemah apapun manusia di dalam dirinya terdapat sifat kejam/pembunuh dan ingin berontak maka jangan anggap orang lemah itu tidak punya keberanian untuk membunuh. Ada pepatah cacing saja diinjak melawan apalagi manusia.
Secara ilmiah sifat Aluamah itu menjadi pertanda bahwa setiap manusia hidup membutuhkan tanah sebagai salah satu sumber kehidupan dengan kata lain manusia tidak makan zat tanah akan mati maka dapat di pastikan di dalam tubuh tiap manusia mengandung dzat tanah.
Nafsu Supiyah sebagai perwujudan sahabat hidup manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia kearah pemujaan terhadap kemegahan dan kemewahan harta dan benda duniawi saja disimbolkan warna kuning sebagai perwujudannya air kuning. Jadi seorang alim apapun di dalam dirinya ada keinginan untuk kesenangan duniawi/kaya walaupun 0.1 % saja oleh karena itu jangan munafik dengan harta dunia
Secara ilmiah sifat Supiyah itu menjadi pertanda bahwa setiap manusia hidup membutuhkan Angin/udara 02 sebagai salah satu sumber kehidupan dengan kata lain manusia tidak menghirup udara akan mati dapat dipastikan di dalam tubuh tiap manusia mengandung udara 02.
Nafsu Amarah sebagai perwujudan sahabat hidup manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia kearah politik, kecerdasan yang cenderung sombong (pemarah, merasa pandai yang tidak mau dilampaui orang lain) di simbolkan warna merah sebagai perwujudannya darah merah Jadi sesabar apapun manusia di dalam dirinya terdapat sifat amarah apabila di ganggu orang lain teramat sangat ia akan marah dan jika tidak dapat dibendung lag.
Secara ilmiah sifat Amarah itu menjadi pertanda bahwa setiap manusia hidup membutuhkan api sebagai salah satu sumber kehidupan dengan kata lain manusia tidak api/panas tubuh akan mati maka dapat di pastikan di dalam tubuh tiap manusia mengandung api/suhu panas
Nafsu Mutmainah sebagai perwujudan sahabat hidup manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia mengutamakan nafsu ibadah kepada tuhan yang Maha Esa di simbolkan warna putih sebagai perwujudannya darah putih. Jadi sejahat apapun manusia di dalam dirinya ada keinginan untuk berbuat baik dan prinsifnya tidak ada orang jahat itu 100 % jahatnya.
Secara ilmiah sifat Mutmainah itu menjadi pertanda bahwa setiap manusia hidup membutuhkan air sebagai salah satu sumber kehidupan dengan kata lain manusia tidak minum akan mati maka dapat dipastikan di dalam tubuh tiap manusia mengandung air
Secara ilmu geologi bumi ini salah satu faktor yang harus ada adalah air.
Sebagai kesempurnaan hidup manusia maka Allah Swt meniupkan Roh ke dalam jasad manusia yang tugasnya sebagai pengendali pengatur dan pengarah tubuh manusia ke jalan yang dikehendaki Allah dan manusia diberi keleluasaan untuk menggunakan ke empat Sifat tersebut di atas agar mampu bertahan dan tetap hidup sebagai Insan kamil.
Oleh karena itu apabila manusia tidak mampu mengendalikan ke empat sabahat hidupnya tersebut maka manusia akan terombang-ambing ke dalam jurang kehancuran. Tetapi sebaliknya apabila manusia mampu mengendalikan, mengatur, menguasai ke empat sifat sahabatnya hidupnya dengan baik dan benar maka manusia tersebut akan mencapai kejayaan, kebahagiaan, kemakmuran dan kesempurnaan moralitas dalam hidupnya dan akan menjadi insan khamil yang sempurna dan mulia di sisi Allah sang Maha pencipta alam semesta dan seisinya.
Selanjutnya yang perlu diketahui bersama bahwa dalam konsepsi kepemimpinan sedulur papat limo pancer tidak ada jabatan wakil ketua /wakil Roh yang ada Roh sebagai pemimpin dan pengendali keadaan di dampingi oleh aluamah ( napsu membunuh/tanah), supiyah (napsu duniawi/angin), amarah (napsu marah/api) dan sifat Mutmainah (nafsu Ibadah/air).
Salam DJIMODJI
Rabu, 11 Mei 2011
Kedekatan Dengan Gusti Allah

Kedekatan Dengan Gusti Allah
Setiap manusia selalu memiliki keinginan untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH sebagai Sang Khalik. Tetapi niat untuk mendekatkan diri tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak sekali godaan yang membuat upaya dan niat manusia untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH terhalang. Mengapa?
Penghalang terbesar dari diri manusia untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH itu adalah berasal dari dalam diri manusia itu sendiri. Salah satu yang penghalang terbesar adalah nafsunya yang memang sudah disetir oleh syetan. Maka tidak heran, jika kita senantiasa meminta perlindungan dan pengayoman dari GUSTI ALLAH untuk menapaki jalan yang lurus, jalan orang-orang yang dirihai dan bukannya jalan orang-orang yang sesat, seperti ayat-ayat dalam surat Al Fatihah dalam Al Qur'an.
Syetan yang menguasai nafsu manusia akan berupaya untuk senantiasa menyesatkan jalan kita sehingga kita tidak bisa mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH. Apalagi bagi para pelaku spiritual, godaan tersebut akan semakin besar. Bagi para pelaku spiritual yang ingin mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH akan digoda dengan beraneka bonus-bonus dan aneka kemampuan ghaib yang muncul dalam diri mereka.
Contohnya, seperti terlihat pada gambar di atas. Upaya untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH bagi para pelaku spiritual umumnya akan terhalang dengan adanya bonus seperti mampu menyembuhkan orang sakit/mengatasi beraneka macam masalah orang lain. Kalau si pelaku spiritual sudah merasa terpikat dengan bonus tersebut dan menjadikan kemampuannya itu untuk mencari nafkah, maka ia hanya akan mendapatkan hal itu saja dan tidak akan pernah dekat pada GUSTI ALLAH.
Contoh bonus yang kedua adalah kebal dari senjata tajam/api. Tentu saja, para pendaki spiritual jika terpikat dengan bonus tersebut, ya itu saja yang akan diterimanya. Ia juga tidak akan bisa mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH. Pasalnya, ia sudah merasa puas mendapatkan kemampuan kebal dari senjata tajam/api.
Contoh bonus yang ketiga adalah mampu untuk ngrogo sukmo (melepaskan sukma dari jasadnya). Inipun merupakan godaan. Jika para pendaki spiritual tidak pandai-pandai menghindari ketertarikan pada bonus tersebut, maka ia pun juga tidak akan pernah bisa dekat dengan GUSTI ALLAH. Dan ia akan menguasai kemampuan untuk menyembuhkan orang sakit, kebal senjata dan ngrogo sukmo saja.
Contoh bonus yang keempat adalah Waskito (tahu yang bakal terjadi). Inipun bonus yang merupakan godaan bagi para pendaki spiritual untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH. Hendaknya para pendaki spiritual tidak merasa bangga dan puas dengan hal itu.
Langkah yang baik bagi para pendaki spiritual adalah mengabaikan berbagai macam bonus tersebut. Artinya, setelah menerima bonus tersebut, hendaknya para pendaki spiritual tetap ingat pada tujuan awal yakni mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH. Kenapa begitu?
Karena jika kita terus berupaya untuk tetap ingat tujuan kita untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH, maka beraneka macam bonus tersebut akan dengan mudahnya kita dapatkan. Apa dalilnya? Dalilnya adalah dari Al Qur'an yang berbunyi "...Barang siapa yang dekat kepadaKU, maka akan AKU cukupi semua kebutuhannya. MATAKU menjadi matanya, TANGANKU menjadi tangannya...." Oleh karena itu, selalu dekat dengan GUSTI ALLAH adalah merupakan keberadaan yang terindah bagi manusia.
Belajar dari Sastra Jendra Hayuningrat
Bagi orang yang belajar kawruh Kejawen, tentu sudah tidak asing lagi dengan kata-kata Sastra Jendra Hayuningrat. Meskipun banyak yang sudah mendengar kata-kata tersebut, tetapi jarang ada yang mengetahui apa makna sebenarnya. Menurut Ronggo Warsito, sastra jendra hayuningrat adalah jalan atau cara untuk mencapai kesempurnaan hidup. Apabila semua orang di dunia ini melakukannya, maka bumi akan sejahtera.
Nama lain dari sastra jendra hayuningrat adalah sastra cetha yang berarti sastra tanpa papan dan tanpa tulis. Walaupun tanpa papan dan tulis, tetapi maknanya sangat terang dan bisa digunakan sebagai serat paugeraning gesang.
Ada 7 macam tahapan bertapa yang harus dilalui untuk mencapai hal itu.
1. Tapa Jasad: Tapa jasad adalah mengendalikan atau menghentikan gerak tubuh dan gerak fisik. Lakunya tidak dendam dan sakit hati. Semua yang terjadi pada diri kita diterima dengan legowo dan tabah.
2. Tapa Budhi: Tapa Budhi memiliki arti menghilangkan segala perbuatan diri yang hina, seperti halnya tidak jujur kepada orang lain.
3. Tapa Hawa Nafsu: Tapa Hawa Nafsu adalah mengendalikan nafsu atau sifat angkara murka yang muncul dari diri pribadi kita. Lakunya adalah senantiasa sabar dan berusaha mensucikan diri,mudah memberi maaf dan taat pada GUSTI ALLAH kang moho suci.
4. Tapa Cipta: Tapa Cipta berarti Cipta/otak kita diam dan memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh atau dalam bahasa Jawanya ngesti surasaning raos ati. Berusaha untuk menuju heneng-meneng-khusyuk-tumakninah, sehingga tidak mudah diombang-ambingkan siapapun dan selalu heningatau waspada agar senantiasa mampu memusatkan pikiran pada GUSTI ALLAH semata.
5. Tapa Sukma: Dalam tahapan ini kita terfokus pada ketenangan jiwa. Lakunya adalah ikhlas dan memperluas rasa kedermawanan dengan senantiasa eling pada fakir miskin dan memberikan sedekah secara ikhlas tanpa pamrih.
6. Tapa Cahya: Ini merupakan tahapan tapa yang lebih dalam lagi. Prinsipnya tapa pada tataran ini adalah senantiasa eling, awas dan waspada sehingga kita akan menjadi orang yang waskitha (tahu apa yang bakal terjadi).
Tentu saja semua ilmu yang kita dapatkan itu bukan dari diri kita pribadi, melainkan dari GUSTI ALLAH. Semua ilmu tersebut merupakan 'titipan', sama dengan nyawa kita yang sewaktu-waktu bisa diambil GUSTI ALLAH sebagai si EMPUNYA dari segalanya. Jadi tidak seharusnya kita merasa sombong dengan ilmu yang sudah dititipkan GUSTI ALLAH kepada kita.
Semoga Bermanfaat
Salam Djimodji
Sabtu, 12 Maret 2011
Tragedi Dompet Kulitku..
Alkisah.,
Gambar Proklamator Soekarno-Hatta di lembaran uang pecahan Rp.100.000,- sedang berbincang santai di suatu sore bersama tumpukan lembaran uang lain nya dalam sebuah dompet kulit.
"Kadang saya ini sering iri kalau melihat Kapiten Pattimura di duit seribuan itu". Kata lukisan Bung Karno memulai perbincangan.
"Lho., memangnya ada apa dengan beliau"? Tanya lukisan Bung Hatta sambil memperbaiki posisi kacamata bingkai tebalnya.
"Lha coba anda bayangkan saja, hubungan dia begitu dekat dengan rakyat kecil dibanding kita-kita ini. Padahal aslinya saya ini dikenal dekat dengan orang-orang kalangan menengah ke bawah dan orang-orang susah". Kta lukisan Bung Karno dengan agak geram.
"Maksud anda bagaimana sich"? Tanya lukisan Bung Hatta makin penasaran.
"Coba perhatikan, Kapiten Pattimura itu di zaman sekarang sangat akrab dengan tukang sayur, pedagang asongan, tukang parkir, pak ogah yang bantu mengatur lalu lintas di perempatan, apalagi sama pengemis pinggir jalan. Dia juga sering i'tikaf dalam kotak infak di masjid, juga dalam keranjang sumbangan keliling". Jawab Bung Karno berapi-api.
"Sekarang lihat kita.., saya rasanya malu sekali. Kita malah sekarang sering nongkrong dimana coba? Di bioskop, di mall, supermarket dan pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar. Dan kita sering sekali dibawa ke restoran-restoran mewah, toko-toko perhiasan dan toko pakaian kelas atas. Saya sekali-sekali juga ingin merasakan masuk dalam kotak infak di masjid itu, atau diajak berkunjung ke rumah pengemis lumpuh di pojokan toko sana. Siapa tau anaknya sekarang sedang menunggu dia pulang ke rumah untuk membeli beras buat dimasak untuk makan malam nanti".
"Wah..., pasti menyenangkan ya mendengar do'a dan ucap syukur mereka saat sang pengemis itu membawa saya berkunjung ke rumahnya". Mata lukisan Bung Karno menerawang membayangkan kejadian itu.
"Iya ya Pak, saya sbenarnya juga merasakan hal yang sama seperti yang Bapak-Bapak rasakan". Tiba-tiba lukisan I Gusti Ngurah Rai di pecahan uang Rp.50.000,- yang sedari tadi mendengarkan perbincangan itu ikut nimbrung.
"Saya juga sering merasa tak enak hati pada lukisan Kapiten Pattimura. Pernah sich saya kadang-kadang ikut masuk dalam kotak infak di masjid.., daaan... Wuiiiih..., isinya penuh dengan lembaran Sang Kapten Pattimura. Ya memang ada beberapa lembaran Tuanku Imam Bonjol dan Cut Nyak Dien disana, tapi itu juga masih bisa dihitung pakai jari". Sambung lukisan I Gusti Ngurah Rai.
Tiba-tiba terdengar suara serak berat dari salah satu lukisan pada lembaran uang di dompet itu.
"Sudahlah..., mudah-mudahan nanti kalian akan sering mencicipi nikmatnya masuk ke dalam kotak infak di dalam masjid itu, atau dibawa pergi berkunjung ke rumah mereka yang dhuafa itu". Serentak mereka menoleh mencari asal suara tadi. Ternyata itu suara lukisan Kapiten Pattimura. Terlihat lembarnya sudah sangat kusam dan dekil pertanda sudah sangat sering berpindah tangan. Jauh berbeda dengan lukisan Soekarno-Hatta juga I Gusti Ngurah Rai yang masih terlihat rapi dan licin.
"Manusia umumnya masih belum faham kalau harta milik mereka yang sesungguhnya adalah apa yang mereka berikan yang bisa memberi manfaat bagi orang lain. Mereka terlalu egois untuk memenuhi keinginan-keinginan mereka saja dan jarang mau memperhatikan orang-orang di sekitar mereka yang membutuhkan. Dan herannya, hanya untuk sesuatu yang tidak terlalu penting pun mereka tidak segan-segan mengeluarkan uang seberapa pun jumlahnya untuk memenuhi hasrat keduniawiannya itu". Sambung Kapiten Pattimura. Yang lain hanya manggut-manggut mendengan penjelasan itu.
Selang beberapa waktu tiba-tiba terdengar suara seorang manusia dari luar dompet yg pengap.
"Tolong Pak, berilah saya sedekah, keluarga kami belum makan dari kemarin Pak...".
Pemilik dompet mengeluarkan dompetnya dari saku celananya. Jari-jemarinya menyentuh dan memilih satu-persatu lembaran uang yang ada di dalam. Semua penghuni dompet menahan nafas sambil berharap mereka lah yang akan dibawa pergi untuk kali ini. Dan selembar uangpun akhirnya berpindah ke tangan si pengemis. Selembar uang kumal bergambar Kapiten Pattimura. Dengan tersenyum kecut Sang Kapiten melambaikan tangan meninggalkan lembaran-lembaran yang lain yang hanya menghela nafas panjang... Kecewa!!
Jumat, 11 Maret 2011
Cinta ?

Anakku, begitu sering kau bicara tentang cinta.
Cinta kepada istri, cinta kepada anak, cinta kepada agama, cinta kepada bangsa, cinta kepada filosofi, cinta kepada rumah, cinta kepada kebenaran, cinta kepada Tuhan.
Apakah isi, atau esensi, dari cintamu itu?
Kau bilang itu cinta suci, cinta sejati, cinta yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, cinta sepenuh hati, cinta pertama…
Apakah benar begitu, anakku?
“ANAKKU, mari kita bicara tentang cinta. Cinta apa yang kau miliki?”
Merasa diri ini memang belum paham apa makna cinta yang sebenarnya, maka aku dengarkan baik-baik setiap hikmah yang menyemburat seperti cahaya.
Anakku, kamu harus membuka hatimu lebar-lebar agar bisa menangkap esensi cinta yang akan aku sampaikan. Simpan pertanyaanmu untuk nanti, karena setiap pertanyaan itu terlahir dari akal. Seperti langit, akal melayang tinggi di atas bumi tempatmu berpijak. Dan kau pun akan jauh dari hati pijakanmu, satu-satunya titik yang mampu menangkap esensi cinta.
Lihat batang bunga mawar itu.
Dia punya potensi untuk mempersembahkan bunga merah dan harum yang semerbak. Namun jika batang itu tak pernah ditanam, tak akan pernah mawar itu menghiasi kebunmu. Maka, hanya dengan membuka diri untuk tumbuhnya akar dan daun lah, batang mawar itu akan melahirkan bunga mawar yang harum. Demikian juga dengan hatimu, anakku. Kau harus membukanya, agar potensi cinta yang terkandung di dalamnya bisa merekah, lalu menyinari dunia sekitarmu dengan kedamaian.
Anakku, begitu sering kau bicara tentang cinta.
Cinta kepada istri, cinta kepada anak, cinta kepada agama, cinta kepada bangsa, cinta kepada filosofi, cinta kepada rumah, cinta kepada kebenaran, cinta kepada Tuhan. Apakah isi, atau esensi, dari cintamu itu? Kau bilang itu cinta suci, cinta sejati, cinta yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, cinta sepenuh hati, cinta pertama…
Apakah benar begitu, anakku?
Mungkin di desamu kau punya seekor kuda.
Begitu sayangnya kau pada kuda itu. Setiap hari kau beri makan, minum, kau rawat bulunya, kau bersihkan, kau ajak jalan-jalan. Seolah kuda itu telah menjadi bagian dari hidupmu, seperti saudaramu. Kau mencintai kuda itu sepenuh hati. Namun, suatu ketika datang orang yang ingin membelinya dengan harga yang fantastis. Hatimu goyah, dan kau pun menjualnya. Cintamu tidak sepenuh hati, karena kau rela menjual cinta. Kau mencintai kuda, karena kegagahannya membuatmu bangga dan selalu senang ketika menungganginya. Namun, ketika datang harta yang lebih memberikan kesenangan, kau berpaling. Kau cinta karena kau mengharapkan sesuatu dari yang kau cintai. Kau cinta kudamu, karena mengharapkan kegagahan. Cintamu berpaling kepada harta, karena kau mengharapkan kekayaan. Ketika keadaan berubah, berubah pula cintamu.
Kau sudah punya istri.
Begitu besar cintamu kepadanya. Bahkan kau bilang, dia adalah pasangan sayapmu. Tak mampu kau terbang jika pasangan sayapmu sakit. Cintamu cinta sejati, sehidup semati. Namun, ketika kekasihmu sedang tak enak hati yang keseratus kali, kau enggan menghiburnya, kau biarkan dia dengan nestapanya karena sudah biasa. Ketika dia sakit yang ke lima puluh kali, perhatianmu pun berkurang, tidak seperti ketika pertama kali kau bersamanya. Ketika dia berbuat salah yang ke sepuluh kali, kau pun menjadi mudah marah dan kesal. Tidak seperti pertama kali kau melihatnya, kau begitu pemaaf. Dan kelak ketika dia sudah keriput kulitnya, akan kan kau cari pengganti dengan alasan dia tak mampu mendukung perjuanganmu lagi? Kalau begitu, maka cintamu cinta berpengharapan. Kau mencintainya, karena dia memberi kebahagiaan kepadamu. Kau mencintainya, karena dia mampu mendukungmu. Ketika semua berubah, berubah pula cintamu.
Kau punya sahabat.
Begitu sayangnya kau kepadanya. Sejak kecil kau bermain bersamanya, dan hingga dewasa kau dan dia masih saling membantu, melebihi saudara. Kau pun menyatakan bahwa dia sahabat sejatimu. Begitu besar sayangmu kepadanya, tak bisa digantikan oleh harta. Namun suatu ketika dia mengambil jalan hidup yang berbeda dengan keyakinanmu. Setengah mati kau berusaha menahannya. Namun dia terus melangkah, karena dia yakin itulah jalannya. Akhirnya, bekal keyakinan dan imanmu menyatakan bahwa dia bukan sahabatmu, bukan saudaramu lagi. Dan perjalanan kalian sampai di situ. Kau mencintainya, karena dia mencintaimu, sejalan denganmu. Kau mendukungnya, mendoakannya, membelanya, mengunjunginya, karena dia seiman denganmu. Namun ketika dia berubah keyakinan, hilang sudah cintamu. Cintamu telah berubah.
Kau memegang teguh agamamu.
Begitu besar cintamu kepada jalanmu. Kau beri makan fakir miskin, kau tolong anak yatim, tak pernah kau tinggalkan ibadahmu, dengan harapan kelak kau bisa bertemu Tuhanmu. Namun, suatu ketika orang lain menghina nabimu, dan kau pun marah dan membakar tanpa ampun. Apakah kau lupa bahwa jalanmu mengajak untuk mengutamakan cinta dan maaf? Dan jangankan orang lain yang menghina agamamu, saudaramu yang berbeda pemahaman saja engkau kafirkan, engkau jauhi, dan engkau halalkan darahnya. Bukankah Tuhanmu saja tetap cinta kepada makhluk-Nya yang seperti ini, meskipun mereka bersujud atau menghina-Nya? Kau cinta kepada agamamu, tapi kau persepsikan cinta yang diajarkan oleh Tuhanmu dengan caramu sendiri.
Anakku, selama kau begitu kuat terikat kepada sesuatu dan memfokuskan cintamu pada sesuatu itu, selama itu pula kau tidak akan menemukan True Love. Cintamu adalah Selfish Love, cinta yang mengharapkan, cinta karena menguntungkanmu. Cinta yang akan luntur ketika sesuatu yang kau cintai itu berubah. Dengan cinta seperti ini kau ibaratnya sedang mengaspal jalan. Kau tebarkan pasir di atas sebuah jalan untuk meninggikannya. Lalu kau keraskan dan kau lapisi atasnya dengan aspal. Pada awalnya tampak bagus, kuat, dan nyaman dilewati. Setiap hari kendaraan lewat di atasnya. Dan musim pun berubah, ketika hujan turun dengan derasnya, dan truk-truk besar melintasinya. Lapisannya mengelupas, dan lama-lama tampak lah lobang di atas jalan itu. Cinta yang bukan True Love, adalah cinta yang seperti ini, yang akan berubah ketika sesuatu yang kau cintai itu berubah. Kau harus memahami hal ini, anakku.
Sekarang lihatlah, bagaimana Tuhanmu memberikan cinta-Nya. Dia mencintai setiap yang hidup, dengan cinta (rahmaniyyah) yang sama, tidak membeda-bedakan. Manusia yang menyembah-Nya dan manusia yang menghina-Nya, semua diberi-Nya kehidupan. Kekuasaan-Nya ada di setiap yang hidup. Dia tidak meninggalkan makhluk-Nya, hanya karena si makhluk tidak lagi percaya kepadanya. Jika Dia hanya mencintai mereka yang menyembah-Nya saja, maka Dia pilih kasih, Dia memberi cinta yang berharap, mencintai karena disembah. Dia tidak begitu, dia tetap mencintai setiap ciptaan-Nya. Itulah True Love. Cinta yang tak pernah berubah, walau yang dicintai berubah. Itulah cinta kepunyaan Tuhan. Anakku, kau harus menyematkan cinta sejati ini dalam dirimu. Tanam bibitnya, pupuk agar subur, dan tebarkan bunga dan buahnya ke alam di sekitarmu.
Dan kau perlu tahu, anakku. Selama kau memfokuskan cintamu pada yang kau cintai, maka selama itu pula kau tak akan pernah bisa memiliki cinta sejati, True Love. Cinta sejati hanya kau rasakan, ketika kau melihat Dia dalam titik pusat setiap yang kau cintai. Ketika kau mencintai istrimu, bukan kecantikan dan kebaikan istrimu itu yang kau lihat, tapi yang kau lihat “Ya Allah! Ini ciptaan-Mu, sungguh cantiknya. Ini kebaikan-Mu yang kau sematkan dalam dirinya.” Ketika kau lihat saudaramu entah yang sejalan maupun yang berseberangan, kau lihat pancaran Cahaya-Nya dalam diri mereka, yang tersembunyi dalam misteri jiwanya. Kau harus bisa melihat Dia, dalam setiap yang kau cintai, setiap yang kau lihat. Ketika kau melihat makanan, kau bilang “Ya Allah, ini makanan dari-Mu. Sungguh luar biasa!” Ketika kau melihat seekor kucing yang buruk rupa, kau melihat kehidupan-Nya yang mewujud dalam diri kucing itu. Ketika kau mengikuti sebuah ajaran, kau lihat Dia yang berada dibalik ajaran itu, bukan ajaran itu yang berubah jadi berhalamu. Ketika kau melihat keyakinan lain, kau lihat Dia yang menciptakan keyakinan itu, dengan segala rahasia dan maksud yang kau belum mengerti.
Ketika kau bisa melihat Dia, kemanapun wajahmu memandang, saat itulah kau akan memancarkan cinta sejati kepada alam semesta. Cintamu tidak terikat dan terfokus pada yang kau pegang. Cintamu tak tertipu oleh baju filosofi, agama, istri, dan harta benda yang kau cintai. Cintamu langsung melihat titik pusat dari segala filosofi, agama, istri, dan harta benda, dimana Dia berada di titik pusat itu. Cintamu langsung melihat Dia.
Dan hanya Dia yang bisa memandang Dia. Kau harus memahami ini, anakku. Maka, dalam dirimu hanya ada Dia, hanya ada pancaran cahaya-Nya. Dirimu harus seperti bunga mawar yang merekah. Karena hanya saat mawar merekah lah akan tampak kehindahan di dalamnya, dan tersebar bau wangi ke sekitarnya. Mawar yang tertutup, yang masih kuncup, ibarat cahaya yang masih tertutup oleh lapisan-lapisan jiwa. Apalagi mawar yang masih berupa batang, semakin jauh dari terpancarnya cahaya. Bukalah hatimu, mekarkan mawarmu.
Anakku, hanya jiwa yang telah berserah diri sajalah yang akan memancarkan cahaya-Nya.
Sedangkan jiwa yang masih terlalu erat memegang segala yang dicintainya, akan menutup cahaya itu dengan berhala filosofi, agama, istri, dan harta benda.
Lihat kembali, anakku, akan pengakuanmu bahwa kau telah berserah diri.
Lihat baik-baik, teliti dengan seksama, apakah pengakuan itu hanya pengakuan sepihak darimu?
Apakah Dia sudah membenarkan pengakuanmu?
Ketika kau bilang “Allahu Akbar,” apakah kau benar-benar sudah bisa melihat ke-”akbar”-an Dia dalam setiap yang kau lihat?
Jika kau masih erat mencintai berhala-berhalamu, maka sesungguhnya jalanmu menuju keberserahdirian masih panjang. Jalanmu menuju keber-”Islam”-an masih jauh di depan. Kau masih harus membuka kebun bunga mawar yang terkunci rapat dalam hatimu. Dan hanya Dia-lah yang memegang kunci kebun itu. Mintalah kepada-Nya untuk membukanya. Lalu, masuklah ke dalam taman mawarmu. Bersihkan rumput-rumput liar di sana, gemburkan tanah, sirami batang mawar, halau jauh-jauh ulat yang memakan daunnya. Kemudian, bersabarlah, bersyukurlah, dan bertawakkal-lah. Insya Allah, suatu saat, jika kau melakukan ini semua, mawar itu akan berbunga, lalu merekah menyebarkan bau harum ke penjuru istana.
Semoga Allah membimbingmu, anakku.
Dalam Renunganku...

Nasihat agung dari sang Waliyullah, Ibnu Athaillah al-Iskandari, yang mengajak kita semua untuk merenungi dan mentafakkuri keindahan anugerah Allah bernama qalb atau hati bagi seorang Mukmin:
“Hati ibarat sebuah pohon, bila disiram dengan air ketaatan buahnya akan tampak jelas.
Mata akan membuah kan penjagaan.
Telinga akan membuahkan perhatian terhadap Alquran dan pengetahuan.
Lidah akan membuahkan zikir dan ucapan yang baik.
Kedua tangan dan kaki akan membuahkan amal-amal kebajikan, taat, serta sikap mau membantu orang.
Sementara bila hati kering, buahnya akan rontok dan manfaatnya akan hilang.
Oleh karena itu, kalau hati sudah kering, perbanyaklah berzikir.
Kunjungilah majelis orang-orang yang wara` dan bijak.
Jangan seperti orang sakit yang berkata, “Saya tak mau berobat. Nanti juga akan sembuh sendiri. Pasti lama kelamaan sakitnya juga akan hilang.”
Orang seperti ini harus dinasihati dengan mengatakan, “Engkau baru bisa sembuh kalau mau berobat. Tak ada jaminan penyakitnya akan hilang sebelum berusaha mencari sebab.”
Perjuangan memang tidak manis.
Ia disertai oleh ujung-ujung panah dan pertumpahan darah.
Berjuanglah melawan hawa nafsu agar ia mau taat.
Itulah yang disebut dengan jihad terbesar.
Hati ibarat cermin, sedangkan hawa nafsu seperti asap atau uap.
Setiap kali asap itu menempel di cermin, cermin itu pun akan menghitam sehingga kejernihan dan keindahannya akan pudar.
Hati yang lemah tak ubahnya seperti cermin milik orang tua renta yang sudah tak punya perhatian untuk membersihkannya.
Ia abaikan cermin itu dan tak pernah lagi ia pakai hingga wajahnya pun tak karuan.
Sebaliknya, hati yang mengenal Allah seperti cermin milik pengantin wanita yang cantik.
Setiap hari ia bersihkan cermin tersebut dan ia pakai sehingga tetap bening dan mengkilat.
Rasulullah Saw bersabda, “Hati manusia lebih bergolak daripada kuali yang sedang mendidih di atas api.”
Betapa banyak orang mukmin yang hatinya kadang menyatu dengan Allah tetapi sebentar kemudian berpisah.
Betapa banyak ahli ibadah yang menghabiskan malamnya dalam taat kepada Allah, tetapi ketika matahari menyingsing ia tak ingat lagi pada-Nya.
Oleh karena itu, Rasulullah Saw berdoa, “Yaa Muqalliba al-quluub wa al-abshaar, tsabbit qalbii ‘alaa diinika wa thaa`atika.” Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agamamu dan ketaatan kepada-Mu.
Hati sama seperti mata.
Bukan keseluruhan mata yang bisa melihat.Tetapi lensanya saja.
Demikian pula dengan hati. Yang dimaksud adalah bukan dagingnya. Tetapi unsur halus yang Allah hunjamkan dalamnya. Unsur itulah yang bisa memahami. Sengaja Allah tempatkan hati bergantung di sisi bagian kiri seperti ember. Kalau dibebani oleh syahwat, ia akan bergerak dan kalau dibebani oleh lintasan takwa ia juga akan bergerak. Kadangkala lintasan hawa nafsu atau syahwat yang lebih dominan. Pada saat tertentu lintasan hawa nafsu dikalahkan oleh lintasan takwa sehingga hati pun memujimu. Tetapi, pada saat yang lain, lintasan takwa dikalahkan lintasan hawa nafsu sehingga hati pun mencelamu.
Kedudukan hati seperti atap rumah.
Bila engkau menyalakan api di dalam rumah, asapnya akan membumbung ke atap hingga membuatnya hitam.
Begitulah api syahwat, kalau sedang berkobar di dalam tubuh, asap-asap dosanya akan naik ke hati dan membuat hati tersbut hitam. Sehingga ia menjadi hijab yang membungkus permukaannya.
Jika engkau hendak membersihkan dan membuatnya kembali bening, serta hendak mengangkat karat yang menempel padanya, engkau harus melakukan empat hal:
1) Banyak berzikir dan membaca Alquran,
2) Selalu diam dan sedikit bicara,
3) Menyendiri untuk munajat kepada Allah Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui,
4) Sedikit makan dan sedikit minum.
Sebaliknya ada empat hal yang bisa mematikan hati:
1) Duduk bersama orang kaya,
2) Berbicara dengan wanita,
3) Jarang berzikir,
4) Banyak makan.
Bila ingin membersikah air, engkau harus menjauhkannya dari barang-barang kotor yang bisa membuatnya najis. Sementara itu anggota badan manusia ibarat saluran air yang mengalir menuju hati dan menumpahkan airnya di sana.
Oleh karena itu, janganlah engkau menyiram hatimu dengan perbuatan hina seperti ghibah, atau membincangkan orang lain, mengadu domba, berkata kotor, mendengar yang terlarang, melihat kepada yang tidak halal, memakan yang haram, dan sejenisnya. Hati tidak dikotori oleh yang keluar darinya. Tetapi, ia dikotori oleh yang masuk ke dalamnya.
Hati baru bersinar dan bercahaya dengan memakan yang halal, selalu berzikir dan membaca Alquran disertai tadabbur, duduk bersama para ulama dan orang-orang mukmin, menjaga diri dari melihat sesuatu yang mubah, memelihara diri dari yang terlarang dan makruh, serta cemas terhadap segala maksiat.
Peliharalah cahaya hatimu wahai saudaraku.
Janganlah engkau membuka tatapan mata kecuali untuk menambah pengetahuan atau hikmah.
Siapa yang ingin melihat kepada berbagai hati, hendaknya ia melihat berbagai jenis rumah di daerahnya.
Ada rumah yang sudah rusak dan menjadi tempat kotoran sampah.
Ada rumah yang rusak dan menjadi tempat ular dan macan.
Ada rumah yang tak bercahaya, gelap gulita.
Ada rumah yang menjadi tempat berkicaunya burung gagak dan burung hantu.
Dan ada pula rumah yang ramai oleh penghuninya, menyebarkan wewangian dan bunga-bunga, serta disinari oleh kilauan bintang gemintang.
Lalu perhatikan hatimu, termasuk yang manakah ia sehingga engkau benar-benar mengetahui.
Bila ketika shalat, membaca Alquran, berzikir, dan berkhalwat, hatimu tidak hadir, tangisilah dirimu!
Taburilah kepalamu dengan tanah, serta berdoalah agar Allah memberi hati yang khusyu’.
Ketahuilah bahwa orang yang hatinya sedang sakit, karena maksiat dan nifak, ia takkan bisa memakai baju ketakwaan. Bila hatimu terbebas dari segala penyakit hawa nafsu dan syahwat, berarti engkau telah memperoleh takwa.
Dalam Alquran, Allah menyebut syahwat sebagi penyakit.
Dia berfirman,“….. maka orang yang di dalam hatinya ada penyakit pastilah menginginkan…” (QS 33: 32 )
Di lain tempat, Allah juga menyebut sifat nifak sebagai penyakit,
“Di dalam hati mereka terdapat penyakit, Allah pun menambah penyakit tersebut…” ( QS 2: 10 )
Untuk mengobati hati yang sakit ada dua cara.
Pertama, dengan mempergunakan sesuatu yang bermanfaat, yaitu ketaatan.
Kedua, dengan menghindari sesuatu yang berbahaya, yaitu maksiat.
Tak ubahnya seperti orang yang sedang sakit.
Ia akan meminum obat dan menghindarkan makanan tertentu sampai betul-betul sehat.
Bila engkau melakukan sebuah dosa, lalu kau ikuti ia dengan tobat dan penyesalan, itu bisa menjadi sebab bagi tersambungnya hubunganmu dengan Allah.
Namun, bila engkau melakukan ketaatan seperti ibadah haji, lalu kau ikuti ia dengan rasa ujub, bangga dan sombong, itu bisa menjadi sebab terputusnya hubunganmu dengan Allah.
Sungguh aneh, bagaimana engkau berdoa kepada Allah agar diberi kalbu yang baik, sementara anggota badanmu melakukan dosa dan perbuatan terlarang.
Jika demikian, engkau seperti orang yang sedang meminum racun atau orang yang menelan obat, tetapi ular dibiarkan menyengatnya.
Siapa yang menyibukkan hatinya dengan Allah, kemudian ia melindunginya dari rongrongan hawa nafsu dan syahwat, itu lebih baik dari orang yang banyak melakukan shalat dan puasa, sedang hatinya sakit.
Allah berfiman,
”Adapun orang-orang uang di dalam hatinya terdapat penyakit, mereka bertambah kufur di samping kekufuran mereka (sebelumnya)” ( QS 9 : 125 )
Orang yang hatinya sibuk dengan dunia dan diisi kecintaan padanya sama seperti orang yang membangun rumah bagus dengan kamar kecil di atas yang airnya menetes ke bawah.
Demikian kondisi itu terus berlangsung sehingga bangunan rumah itu dilumuri oleh kotoran.
Begitulah kondisimu di hadapan Allah.
Hatimu berlumur maksiat.
Engkau memakan makanan haram, melihat yang haram, dan menyembunyikan keburukan, tetapi anehnya engkau masih merasa sebagai hamba yang shalih.
Siapa yang melakukan perbuatan haram dan mengerjakan maksiat, hatinya menjadi gelap dan mata batinnya menjadi redup.
Oleh karena itu, segeralah menyucikan dan membersihkan hatimu dengan bertobat, berzikir, menyesal, dan memohon ampunan.
Bila engkau belum bertobat di saat sehat, bisa jadi Allah akan mengujimu dengan penyakit dan musibah agar engkau bisa keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa seperti pakaian yang dicuci dengan air.
Bertobatlah dan beristighfarlah selalu agar hatimu sibuk dengan zikir hingga engkau dilumuri cahaya.
Jangan sekali-kali berbuat seperti penggali sumur yang mencari air.
Ia menggali di sini dengan dalam sehasta, kemudaian menggali di tempat lain dengan dalam sehasta pula.
Dengan begitu, ia takkan dapat menemukan air. Mestinya ia menggali di satu titik saja dengan sungguh-sungguh hingga air ditemukan.
Ketahuilah bahwa hati ini menjadi rusak karena kurangnya rasa takut dan tiadanya rasa khusyu’ terhadap Allah.
Hati yang hidup adalah hati yang tak pernah terlalaikan dari Allah, entah oleh sesuatu yang buruk maupun yang baik.
Bila ingin mengobati hatimu dari keburukan dan kelalaian, jauhilah sesuatu yang syubhat, keluarlah menuju padang tobat, pakailah baju penyesalan, angkat panji kehinaan, tinggalkan tempat tidur, ubahlah kondisimu dari jauh kepada Allah dengan mendekati-Nya dan dari permainan dengan kesungguhan, berilah makan fakir miskin, biasakan hatimu untuk mengasihi dan mencinta, perbanyak menangis, dan teruslah berdoa karena harap dan cemas, dengan begitu mudah-mudahan engkau sembuh.
Namun sayangnya, engkau lebih memperhatikan makan, mencari yang ternikmat, mengisi perut dengannya, serta berbangga dengan yang indah dan gemuk. Engkau tak ubahnya seperti domba yang sengaja dibuat gemuk untuk disembelih dan dimakan. Bukankah engkau pun telah menyembelih diri sendiri secara tak sadar?
Cahaya adalah tunggangan hati.
Ia merupakan tentaranya sebagaimana kegelapan merupakan tentara hawa nafsu.
Bila Allah ingin menolong hamba-Nya dalam melawan syahwat, Dia akan menyokongnya dengan tentara cahaya sekaligus melenyapkan kegelapan darinya.
Cahaya bertugas menyingkap, bashiirah (mata hati) memutuskan, serta hati mendatangi atau menolak.
Adapun manusia, aspek lahiriyahnya berkilau, namun aspek batinnya yang sebenarnya menjadi substansi perhatian. Hawa nafsu hanya melihat pada aspek lahiriyah, sementara hati melihat pada substansi batiniahnya.
Wahai hamba Allah, agama merupakan modal hidupmu di dunia.
Bila engkau kehilangan modal tersebut, sibukkan lisanmu dengan menyebut asma-Nya, sibukkan hatimu dengan mencintai-Nya, dan anggota badanmu dengan mengabdikan diri pada-Nya.
Selain itu, bersikaplah rendah hati, temui para ulama yang mengamalkan ilmunya, sampai benih datang, turun hujan, dan ia pun tumbuh.
Siapa yang memperlakukan hatinya seperti petani memperlakukan tanahnya, hatinya akan bersinar dengan cahaya iman dan hikmah.
………………
Gusti, makin terpuruk hamba,makin malu hamba, sekiranya diri tidak lagi mampu merenungi jutaan hikmah agung ini…
Salam Djimodji
Siapa Aku Sebenarnya ??

“Tidak ada sesuatupun yang lebih dekat kepadamu selain dirimu sendiri, jika kau tidak memahami dirimu, bagaimana kau bisa memahami orang lain?
Kau mungkin berkata, “aku memahami diriku”, tetapi kau salah!
…Satu-satunya yang kau ketahui tentang dirimu hanyalah penampilan fisikmu.
Satu-satunya yang kau ketahui tentang ‘nafs’mu (jiwa) adalah ketika kau lapar kau makan, ketika kau marah kau berbuat keributan.
Semua binatang memiliki kesamaan dengan dirimu dalam hal ini.
Kau harus mencari kebenaran di dalam dirimu… Siapa dirimu?
Darimana datangnya dirimu dan kemana kau akan pergi?
Apa perananmu di dunia ini?
Mengapa kau diciptakan?
Dimana kebahagiaan sejatimu berada?
Jika kau ingin mengetahui tentang dirimu, kau harus mengetahui bahwa kau diciptakan dari dua hal.
Pertama adalah tubuhmu dan penampilan luarmu (zahir) yang dapat kau lihat dengan matamu.
Bagian kedua adalah jiwamu.
Jiwamu adalah bagian yang tidak bisa kau lihat tetapi bisa kau ketahui dengan pengetahuanmu yang dalam.
Kebenaran akan eksistensimu ada di dalam jiwamu.
Hal lainnya hanyalah pengabdi bagi jiwamu.”
Salam Djimodji
Langganan:
Postingan (Atom)