Selasa, 31 Mei 2011

Kakang Kawah Adi Ari-Ari, Kekuatan Penuntun Menuju Jalan Sejati

“Sedulur Papat” yang sering disebut “Kakang Pembarep, Kakang Kawah, Adi Ari-ari, dari hasil “othak-athik gathuk” dengan tingkat pemahaman yang ada saat ini, maka tertuanglah wedaran sebagai berikut:



Empat saudara (kanda) dan satu musuh (kala) yang menemani pribadi sesorang sepanjang perjalanan hidupnya adalah refleksi dari metamofosis Dewa (kekuatan Hyang Widhi) yang datang pada peristiwa kelahiran manusia. Menurut pemahaman kami, Dewa adalah perwujudan Kekuatan Hyang Widhi. Dewa Kala adalah ego manusia. Sedangkan empat saudara penolong Manusia adalah Dewi Uma, Dewa Iswara, Dewa Brahma dan Dewa Mahadewa.



Dalam Layang Joyoboyo disebutkan, ketika janin mau masuk umur delapan bulan dalam kandungan, Gusti mengeluarkan kuasanya mencipta asal-usul saudara empat :

1.Darah Putih, artinya Belas-Kasih.

2.Bungkus, artinya yang membuat kekuatan.

3.Ari-ari (placenta) yang menjaga sukma.

4.Darah Merah, yang melawan kondisi berbahaya.



Selanjutnya, Gusti mengeluarkan kekuasaannya membuat nama saudara empat yang sejati, yang berada dalam raganya janin yaitu:

1.Djoborolo (sering disebut Djibril), berada di kulit.

2.Mokoholo (sering disebut Mikail), berada pada tulang.

3.Hosoropolo (sering disebut Isrofil), berada di nyawa.

4.Hodjorolo (sering disebut Izroil) berada dalam daging janin.



Ketika umur janin hampir sembilan bulan, Gusti mengeluarkan kekuasaannya membuat “rasa” bagi janin yaitu:

1.Budi, di dalam budi ada intelegensia.

2.Rasa (nurani), di dalam rasa ada sukma.

3.Intelegensia, didalamnya ada rasa.

4.Kehidupan, di dalam kehidupan ada “Aku”.



Dengan adanya kekuatan bawaan tersebut maka manusia tidak perlu takut untuk hidup di bumi. Untuk menjaga kehidupan “Aku” di bumi yang mulia, agar “Aku” memiliki kehidupan yang sempurna, Gusti telah memberikan kekuatannya:

1.Djoborolo yang memberi sabda terhadapku.

2.Mokoholo yang memberi rasa terhadapku.

3.Hosoropolo yang memberi ingatan terhadapku.

4.Hodjorolo yang memberi bisikan hati terhadapku.



Untuk mencapai kesempurnaan sejati di tempat Gusti yang maha suci, kita perlu berdoa, berusaha agar kekuatan-kekuatan yang ada dapat membawa kita kembali kepada Gusti:

1.Hodjorolo yang melepaskan rasa dari raga.

2.Hosoropolo yang melepaskan sukma dari raga.

3.Mokoholo yang melepaskan pikiran/intelegensia dari raga.

4.Djoborolo yang melepaskan budi dan sabda dari raga.



Kita perlu sadar, kita mempunyai raga dan beberapa kekuatan yaitu, budi (pikiran yang terkendali, pikiran yang jernih), rasa, ingatan dan bisikan hati.



Raga.

Kita sering mengidentifikasikan diri dengan raga, kulitku sawo matang tinggi 170 cm, tinggi besar, mata hitam rambut ikal, tampan, cantik. Itu semua adalah ragaku. Tetapi ketika kehidupan meninggalkanku itu semua hanya jasadku. Dan aku bukan jasadku



Pikiran.

Kita sering mengidentifikasikan diriku dengan pikiran. Aku adalah pikiranku. Memikir memicu keinginan, selanjutnya keinginan memicu ucapan dan tindakan. Dan hasil yang dicapai tidak pernah abadi, kita terjerat dengan kekuatan Sang Kala, sang waktu. Hari ini senang, tetapi ketika kesenangan habis akan timbul kesedihan, kalaupun tidak tercapai kesenangan juga akan timbul kekecewaan. Seandainya waktu tidak ada atau hanya bersifat ilusi, maka kesenangan dan kesedihan akan jadi satu, dualitas. Dibalik kesenangan ada kesedihan dan sebaliknya. Ketika aku sadar, ternyata aku bukan pikiran. Buktinya pada waktu tidur lelap tak ada pikiran, aku tetap ada. Dalam keadaan meditatif aku dapat memperhatikan pikiran, aku saksi dari pikiran. Pikiran hanya sebagai alat. Tetapi sebelumnya, karena aku belum sadar aku menjadi budak dari pikiranku. Aku mengalami susah dan senang ditentukan oleh pikiranku. Kebahagiaan mulai muncul ketika ada celah antara dua pikiran. Kebahagiaan dari dalam, bukan kesenangan dan kesedihan hasil dari pikiran. Dalam kondisi tenang maka pikiranku menjadi jernih.



Emosi.

Emosi muncul ketika pikiran bertemu tubuh. Pikiran yang kuat tentang kemarahan menimbulkan emosi marah yang merupakan reaksi tubuh terhadap pikiran yang akan menyerang. Emosi adalah reaksi tubuh terhadap pikiran. Kala pikiranku jernih maka emosiku juga tenang. Aku pun bukan emosiku. Dalam keadaan meditatif aku dapat memperhatikan emosiku. Aku adalah saksi. Rasa sejati yang penuh kasih.



Ingatan.

Memberdayakan ingatan. Ketika aku mencapai kesadaran yang baru yang lebih tinggi, maka ingatan/kesadaran yang lama kubuang dan selalu kuingat dan kupenuhi diriku dengan ingatan/pemahaman baru. Ketika seseorang diberi nama baptis mestinya ingatan lama harus hilang dan dia hidup lahir kembali dengan pemahaman kesadaran baru, ingat akan jati dirinya yang selaras dengan nama Santo atau Santa yang diberikan kepadanya. Hidup baru dengan kesadaran Kristus. Ketika seseorang diberi nama Muhammad di depannya, kesadarannya pun harus diselaraskan dengan kesadaran Kanjeng Nabi Muhammad yang maksum. Ketika seorang Raja diberi gelar Hamengkubuwono atau Pakubuwono, maka ingatan kesadaran yang lama di buang dan dia harus hidup dan ingat selalu dengan gelar yang diberikan kepadanya sebagai pemangku dunia. Hal ini sejalan dengan ajaran Yang Mulia Atisha, bahwa setelah tercapai pemahaman tentang Kesadaran Murni, Bodhi Chitta, maka tiba saatnya untuk membuang conditioning lama, dan menggantinya dengan kesadaran baru. Memperbaiki mind dengan created mind dan harus diterapkan dalam keseharian. Sehingga terjadi kelahiran kembali. Di India ada tradisi seorang diberi nama baru. Seorang murid yang diberi nama baru harus membuang conditioning lama dan hidup dengan conditioning baru sesuai nama barunya.



Bisikan hati.

Bisikan hati/nurani. Ketika sampai pada suatu kesadaran bahwa yang mengawasi dan membisiki adalah aku. Yang diawasi dan dibisiki adalah aku, pengawasan dan bisikan adalah aku. Mungkin dirinya sudah mencapai kesadaran itu. La Illah Illallah. Tidak ada sesuatu di luar Allah. Yang Ada hanyalah Allah.



Penutup.

Yang penting bukanlah sekedar memahami, akan tetapi bagaimana pemahaman itu dapat direalisasikan selamanya. Setelah memahami semuanya, yang penting adalah melaksanakan pemahaman itu setiap saat, dan itu bukan pekerjaan yang ringan. Itulah jihad yang sejati. Perlu kepasrahan kepada Hyang Widhi. Dalam pandangan-Nya kita ini adalah anak kecil yang baru belajar jalan yang tertatih-tatih. Semoga Gusti Allah berkenan membimbing. Semoga Guru Sejati memandu kita.







Semoga Bermanfaat

Salam DJIMODJI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar