Kamis, 01 Juli 2010

Darah dan Daging Ular ??


Darah ular atau binatang lain seperti biawak, trenggiling, otak monyet, dan kalong, diyakini mampu meningkatkan libido pria. Meskipun bisa dipakai sebagai obat berbagai macam penyakit, namun tetap saja mendongkrak libido menjadi tujuan utama konsumennya.

Malam belum lagi larut di Jl. Mangga Besar Raya, Jakarta Barat, yang masih menyisakan rintik hujan. Lampu-lampu jalan terlihat nanar, tersaput asap kendaraan bermotor yang lalu lalang menikmati Jakarta yang terasa sedikit dingin malam itu.

Beberapa puluh meter dari hotel ‘jam-jaman’ yang biasa di-booking pria ‘hidung belang’ dengan pasangannya, terlihat sedikit kesibukan di sebuah tenda yang ditutup dengan kain lebar mirip spanduk bertuliskan khasiat ular kobra dan trenggiling yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti kencing manis, darah tinggi, jantung, haid tidak teratur, dan masih sederet panjang daftar penyakit yang bisa disembuhkan setelah meminum darah atau empedu ular kobra.

Di meja ditata beberapa botol arak dan madu yang dipakai untuk mencampur darah dan empedu ular kobra agar hilang rasa amis, anyir, dan pahit. Di dekat meja, pemilik meletakan kotak berukuran sekitar 1 m2 berisi puluhan ular kobra, baik yang jenis biasa maupun king cobra. Sementara anak buahnya terlihat membakar daging ular yang kemudian disantap pengunjung setelah mereka menenggak darah dan empedunya.

“Sate ular ini biasanya dimakan sebagai syarat saja. Ada juga pembeli yang tidak mau makan sate kobra, mereka hanya minum darah dan empedunya. Dagingnya biasa kita buat sate dan dijual Rp800 per tusuk,” ujar Uwi alias Safari, 38, pemilik Uwi Kobra kepada Bisnis.

Menurut pria yang sudah berjualan ular kobra dan trenggiling di kawasan Mangga Besar sejak 1984 ini, setiap harinya dia bisa menjual minimal 10 ular kobra dalam berbagai ukuran dengan harga bervariasi. Untuk ular kobra biasa, berukuran kecil, harganya dipatok Uwi Rp25.000 per ekor. Sedangkan untuk King Cobra, Uwi mematok harga Rp750.000 per ekor.

“Untuk trenggiling, harganya dihitungnya per kilogram, dimana per kilogramnya kita jual Rp110.000. Minimal sehari saya bisa menjual 10 ekor kobra. Nah, kalau pas musim liburan panjang dan banyak turis Taiwan datang ke sini, saya bisa jual banyak. Mereka senang melahap ular kobra, baik di sup maupun dibuat sate,” tuturnya.

Memang, demikian penuturan Uwi, sebagian besar pelanggannya adalah orang ‘keturunan’. Namun bukan berarti pribumi tidak suka mengonsumsinya. Sebab, konon kabarnya darah dan empedu ular kobra akan mampu membuat seorang pria ‘tahan lama’ di ranjang dengan pasangannya. Tidak hanya itu, gangguan impotensi pun bisa diatasi secara bertahap dengan mengonsumsi darah dan empedu ular jenis ini. Inilah yang membuat banyak pria berbondong-bondong mendatangi tempat penjualan darah ular kobra di bilangan Mangga Besar.

Tahan lama

Seperti dialami Halim Putra, 26, karyawan di sebuah perusahaan interior yang mengaku mengonsumsi darah dan empedu ular seminggu tiga kali dengan rata-rata uang yang dikeluarkan Rp250.000 hingga Rp300.000 sekali makan.

“Hasilnya sungguh luar biasa. Saya bisa ‘main’ sampai tiga kali berturut-turut dengan pasangan saya. Selain itu, badan juga terasa fit dan tidak mudah lelah. Selain darah ular, saya juga suka menyantap otak monyet,” kata pria dengan badan yang memang terlihat sehat.

Kecenderungan minum darah dan empedu ular kobra tidak hanya terjadi di Jakarta, melainkan kota besar lainnya seperti di Surabaya, Medan, Denpasar, dan Semarang. Di Semarang, Bisnis sempat mengunjungi Istana Raja Kobra, warung sekaligus rumah milik Sapto Miharjo, perintis pengobatan ramuan ular kobra dan penyedia masakan olahan daging ular dan biawak di bilangan Barito.

Rumah sekaligus warung dengan pagar dan kayu penyangga yang bercat hijau muda itu begitu bersahaja menyapa setiap tamu atau pelanggan yang hadir. Usai melalui pagar, kita langsung disambut deretan kursi panjang dan meja khas warungan. Beberapa penggorengan besar dan alat-alat masak usang nampak berjejeran dengan kompor besar yang mati berdiri kukuh di sudut sebelah kanan.

Sedang di sudut kiri pintu masuk terdapat sebuah kandang besar dari bambu dan anyaman kawat didepannya beberapa ember berisi air dan setumpuk buntelan kantung plastik. Di sebelah atas tumpukan buntelan itu tergantung bulatan kecil-kecil berwarna hitam yang tak lain adalah empedu kering ular dan biawak.

Tentang buntelan remeh tergeletak di samping ember itu Bisnis ingatkan untuk tidak usil menjamahnya. Sebab sekitar enam ular dari jenis naja sp (kobra lokal) dan ophiophagus hannah (king cobra)-yang sedang berganti kulit itu sangat sensitif-tersebut akan dengan senang hati untuk menyemburkan racunnya ke mata Anda atau mematuk kulit kaki Anda.

“Kalau yang tiga itu king cobra sudah dipesan oleh pengusaha Korea untuk diambil usai Lebaran,” ujar Sapto yang biasa disapa Totok yang pengalaman menangkap ular sejak 1977.

Siang itu dirinya baru saja usai menyembelih seekor kobra lokal seukuran dua meter untuk diambil darah, empedu, sumsum dan tangkurnya sebagai sarana kesembuhan salah seorang pasien dari Kota Demak. Seperti yang sudah-sudah dirinya selalu mendapat pasien dalam kondisi sudah sangat parah dan mengaku sudah menyerah dengan pengobatan ala kedokteran.

Segala penyakit

Selain untuk surungan (kawan minum alkohol lokal, Cong Yang) daging ular biasa (bukan kobra) menurut Totok berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit.

Sedangkan ular dari jenis kobra selain dinikmati sebagai surungan, menurut Totok memiliki banyak khasiat a.l darah untuk darah rendah, daya tahan tubuh lemah; empedu untuk berkhasiat untuk menyembuhkan hampir semua penyakit berat seperti kanker, paru-paru, tumor, dan penyakit berat lain; sumsum digunakan untuk menyembuhkan rematik, pengapuran, asam urat dan cepat lelah; tangkur dipercaya mampu mengatasi impotensi sedangkan kulit- dalam bentuk bubuk dicampur kopi-untuk mengobati luka yg lambat menutup.

“Tetapi saya mengharapkan agar calon pengguna ramuan sebaiknya memeriksakan dirinya terlebih dahulu secara medis, semisal tekanan darah,” paparnya.

Totok menjelaskan pemeriksaan medis diperlukan untuk menentukan takaran ramuan yang akan diberikan untuk tiga hari berturut-turut pertama. Usai tiga hari pertama, pengguna diharapkan memeriksakan dirinya kembali ke dokter.

Pemeriksaan itu selain untuk melihat hasil pengobatan juga untuk melihat ulang takaran ramuan, juga karena ramuan ini terhitung mahal bagi masyarakat yang kurang mampu.

Ramuan ala Totok sebenarnya cukup sederhana yaitu merupakan campuran dari bagian tubuh kobra darah, sumsum, empedu dan tangkur ditambah madu dan anggur kolesom.

Penggunaan anggur kolesom yang berkadar alkohol rendah itu dimaksudkan untuk mempercepat penyerapan saripati dari ramuan tubuh ular kobra tersebut.

Setiap satu ramuan tersebut, dirinya mematok harga kobra lokal tak lebih dari Rp25.000 sedangkan king kobra dipatok harga Rp500.000. Harga itu terhitung sangat murah jika dibandingkan harga yang dipatok oleh penyedia ramuan darah kobra di kota-kota lain. Bahkan beberapa diantaranya tega memberikan harga yang berbeda-beda sesuai ukuran ular.

“Padahal khasiatnya sama saja baik ular usia tua, ukuran besar kecil. Yang penting ularnya dari jenis kobra.”

Meski tentu saja Totok tidak menampik tetap menjaga dapur rumahnya tetap menyala, harga murah itu adalah bagian dari pelayanan sosial bagi masyarakat.

Mengenai pelanggan Istana Raja Kobra, Totok menuturkan cukup banyak pejabat-pejabat di Ibukota dan di Jawa yang turut menjadi pelanggannya. Hanya saja dia mengaku sungkan untuk menyebutkan nama-nama pejabat yang menjadi pelanggannya.

Hanya saja untuk pengolahan yang diinginkan oleh pelanggan, Totok mengaku lepas tangan semisal orang Korea yang memilih untuk merebus 40 ekor ular kobra segala ukuran hidup-hidup dengan 20 liter air selama 24 jam. Sehingga menyisakan air sekitar dua liter.

Ada juga tamu yang memilih memasukkan ular hidup ke dalam botol minuman keras, seperti halnya menggunakan bayi rusa minuman keras, dipercaya ini mampu mendongkrak kejantanan peminumnya.

Tapi, menurut Uwi, sebaiknya bila Anda mau meminum darah kobra yang dicampur empedu, atau sumsum, pergilah ke tempat yang sudah berpengalaman membunuh ular kobra secara tepat.

“Untuk memotong kepala dan mengeluarkan darahnya ada caranya, tidak asal potong. Kalau asal potong, bisanya ikut tertuang ke dalam gelas. Itu sama saja Anda minum racun, bisa mati,” tegas Uwi.

Memang, pada medio April 2003 lalu di salah satu restoran kobra di Jl. Ngurah Rai, Bali, seorang pria yang inngin mengobati penyakit rematik, paru-paru, dan maag yang dideritanya tewas setelah meminum darah ular. Jadi, selain berharap penyakit bisa lenyap, Anda juga mesti waspada dengan risiko yang akan menimpa.

Anti racun hingga mengatasi impotensi

Dalam kehidupan manusia ular sudah menempati strata yang penting. Dalam agama Semit (Yahudi, Kristen, dan Islam) ular dimunculkan sebagai manifestasi iblis yang menggoda Hawa sehingga akhirnya manusia terusir ke dunia.

Namun bisa ular tak selamanya berbahaya. Mekanisme kerja ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pengobatan. Di antaranya untuk penghilang rasa sakit, pengencer darah, pereda ketegangan otot, antikanker, antimikroba, antikejang bahkan diteliti untuk anti-HIV seperti pernah diteliti P. Gopalakrishnakone, gurubesar dari Fakultas Kedokteran National University of Singapore dalam The 2nd National Symposium The Recent Advances in Critical Care Management of Trauma Cases.

Sejumlah obat telah dihasilkan dari racun alami. Senyawa arvin dari racun ular berbisa Malaysia digunakan untuk mengatasi gangguan penggumpalan darah.

Pada 1998, Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) telah mengkaji dan menyetujui peredaran empat obat berbahan dasar racun, baik bisa ular, kalajengking maupun kerang kerucut, yaitu aggrostatin untuk mengobati angina, captopril untuk tekanan darah tinggi, conotoxin untuk anestesi saraf tulang belakang, serta chlorotoxin untuk pengobatan tumor otak.

Menurut Gopalakrishnakone yang menjadi koordinator dan peneliti utama pemanfaatan bisa dan racun (Venom and Toxin Research Programme/VTRG), penelitian yang dimulai pada 1985 itu melibatkan pelbagai disiplin ilmu di NUS, pemerintah Singapura maupun lembaga dari Cina, Vietnam, Jepang, Thailand, Perancis, Inggris, Israel, dan AS.

Fokus penelitian adalah mempelajari mekanisme sekresi bisa serta struktur kelenjar penghasil bisa pada hewan seperti ular, kalajengking, ikan karang, ubur-ubur, dan laba-laba, kemudian mengisolasi, memurnikan serta meneliti sifat racunnya.

“Racun yang bersifat racun saraf, racun otot, racun jantung dan pembuluh darah, serta aktivitas anti penggumpalan darah diteliti untuk mendapatkan molekul yang potensial untuk dikembangkan sebagai obat,” ujar Gopalakrishnakone.

Sejauh ini VTRG telah meneliti 23 jenis racun baru a.l hannalgesin dari (king cobra) yang mempunyai sifat menghilangkan rasa sakit telah dibuat sintetiknya dan dipatenkan. Demikian pula acidic PLA2 dari kobra lokal yang bersifat anti penggumpalan darah.

Zat lain, yaitu myotoxic PLA2 dari pseudechis australis (ular coklat dari Australia) yang bermanfaat bagi otot dan ginjal. Juga racun dari buthus martensi (kalajengking merah Cina), yaitu makatoxin, chibutoxin, dan bukatoxin; racun heterometrus sps (kalajengking hitam) yaitu hefutoxin; racun coremiocnemius validus laba-laba tarantula Singapura); racun conus marmoreus (kerang kerucut); serta racun miropechis ikaheka (sejenis ular dari Papua).

Selain dimanfaatkan bisanya, mereka juga gemar menyantap darah, empedu, otak, dan daging ular.

Mereka menyantap ular hanya demi sebuah keyakinan yang belum jelas manfaatnya. Di berbagai kota dunia, kini ular tampil sebagai santapan bergengsi.

Padahal kalau diteliti, daging ular tak jauh beda dengan daging binatang lain. Dia memiliki komposisi protein, lemak, dan karbohidrat. Jadi, menyantap daging ular sama saja dengan memakan ikan.

Menurut para penikmat hidangan ular yang sempat ditemui Bisnis, ada beberapa manfaat yang bisa dipetik dari empedu dan darah ular tersebut. Mulai dari menjaga kesegaran tubuh, meningkatkan gairah seksual, hingga konon mampu menanggulangi penyakit lupa.

Bagi masyarakat Cina dan Hongkong tidak ada yang sanggup menahan dinginnya udara Hong Kong selain semangkuk sup ular.

Kebiasaan pemakaian obat kuat untuk meningkatkan daya seksual yang sebenarnya belum terbukti secara medis. Obat kuat (afrodisiak) adalah suatu zat atau obat yang dipercaya dapat membangkitkan gairah seksual yang diperoleh tanpa resep dari dokter.

Jenis obat kuat tersebut antara lain pasak bumi, ginseng, cula badak, kerang mentah, tangkur buaya, lalat spayol, susu kuda liar, daging, dan darah kobra.

Bahan yang terkandung dalam afrodisiak itu mengandung senyawa yang meningkatkan sensasi seksual saja, tidak menambah potensi seksual. Sebenarnya dari sudut kesehatan, tidak ada istilah obat kuat melainkan cara atau obat untuk mengatasi berbagai gangguan fungsi seksual, baik yang dialami pria maupun wanita.

Gangguan fungsi seksual itu penyebabnya bermacam-macam. Maka pengobatannya pun bervariasi tergantung jenis gangguan fungsi seksualnya. Artinya, semua yang indah-indah tentang seks setelah mengunakan narkoba atau obat kuat itu tidak nyata. Semata promosi dan tipu daya para bandar dan penjual obat kuat.

Malahan, mengonsumsi darah kobra justru bisa menimbulkan penyempitan pembuluh darah dan asam urat, karena darah kobra mengandung kolesterol dan kalpin. Tapi, semuanya terserah Anda sebagai konsumen.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar